Dibalik rahasia seorang ayah kepada anak lelaki


Dibalik rahasia seorang ayah kepada anak lelaki

images

“Jahat jahat jahat.” Sebuah goresan yang selalu membasahi pikiran engkau.

Masih ingatkah, engkau? Ketika engkau masih kanak-kanak, Ayah selalu melarang engkau untuk menghamburkan uang. Dimana kala, engkau hanya duduk terdiam, mendengar celotehan dia agar engkau tak bisa menikmati jajananmu. Namun, dibalik kehadiran sesosok seorang Ibu yang karismatik, mengerti apa yang engkau inginkan, hingga dia berkata, “Silahkan, Nak.”

Lalu, ketika engkau beranjak remaja. Masih ingatkah, engkau? Disaat dia berkata, “Dasar Anak penakuttt. Masa, di dalam kegelapan engkau harus bersembunyi. Engkau ini lelaki, Nak!” Iya, itu adalah  sebuah ucapan yang akan selalu berkecamuk dalam kemarahanmu. Namun, ini berbanding terbalik dengan kehadiran Sang Ibu yang penyayang yang selalu saja membela engkau, disaat engkau teraniaya oleh Sang Ayah.

Selanjutnya, ketika engkau memasuki perguruan tinggi, Ayah berkata, “Jangan pernah sekali-kali! Engkau keluyuran tak jelas, belajar dan belajarlah. Apa, engkau kira nyari uang itu gampang.” Iya, pastinya itu adalah sebuah kebencian yang engkau rasakan begitu mendalam, dimana itu selalu saja menghantui rasa takut engkau kepadanya. Namun, ini jauh sekali dengan pemikiran Sang Ibu yang begitu luas dengan wawasan sungguh mengerti apa yang engkau butuhkan.
“Ya, sudah, Nak. Boleh-boleh aja kamu kelayapan tapi jangan sampe Ayah tahu, engkau ngerti kan?”

Dan akhirnya, ketika engkau sudah mapan, berkeluarga, dan mempunyai seorang anak lelaki. Tergores pikiran untuk mencari tahu, apa saja yang pernah Ayah lakukan kepada engkau selama ini? Dan ternyata, itu berbanding terbalik terhadap apa yang pernah engkau pikirkan selama ini. Bahwa Ayah telah menjadikan engkau lebih dewasa, dimana engkau harus memimpin keluargamu, dan menjadikan sebuah prinsip-prinsip dasar dalam menjalankan hidup berkeluarga.

6 thoughts on “Dibalik rahasia seorang ayah kepada anak lelaki

  1. Saya punya kakak lelaki yang selalu “disuruh-suruh” oleh ayah. Saya yang bungsu kebalikannya, “dimanja”.
    Sepertinya unfair. Privilege buat saya, tapi unfair buat kakak saya.
    Kita sering cerita-cerita, dan it seems kakak saya memahami kenapa ayah saya lebih sering “memerintah” dia setelah kakak saya sendiri punya anak laki-laki.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s