Tolong Bangunkan Secepatnya #1


Authors: Rere Ebri & Iwan Lesmana

Prolog

Suatu hari, temanku pernah bertanya kepadaku. Dia bilang, “Menurutmu apa itu imajinasi?” ku tak menjawabnya, karena ku pikir dia adalah seseorang yang punya catatan masalah cukup banyak. Dia tersenyum, kemudian dia berkata. “Ada masanya seorang manusia harus sendiri, terpaksa mau pun di paksa oleh keadaan. Pada keadaan tersebut, imajinasilah yang menemani manusia itu dalam konteks duniawi. Semua rasa, hasrat, ingatan, harapan, dan pengetahuan bercampur. Kemudian setelah itu, terjadilah beragam aksi.”

I Skizofrenia

Rotasi semesta, sebelum ini berjalan dengan sangat baik. Iklim tropis dengan dua musim yang seimbang, tidak adanya gangguan keuangan yang serius, jam istirahat yang cukup, dan orang-orang di sekeliling yang penuh dengan cinta.

Namaku Aldy Ibrahim, lelaki jenius, sempurna, pekerja keras, penyuka filosofi, namun misterius. Mendadak  karierku hancur, dan dua puluh tujuh hari kemudian Asha Alisya (tunanganku) meninggal dunia karena kecelakaan. Apa jadinya ketika kau hanya bercita cita untuk dapat hidup sederhana, menjadi hamba yang menurut, dan dapat bekerja dengan tenang, namun yang terjadi kau malah bertemu dengan sebuah rahasia mengerikan tentang dunia. Malapetaka di luar perhitungan. Dari sekian banyak rencana di kepala, tak ada satu pun yang mampu meredakan kerasnya tekanan yang harus aku telan dengan terpaksa.

            Skizofrenia, aku sedang melakukan perjalanan di alam bawah sadarku, tanpa seorang pun teman, tanpa setitik cahaya yang mungkin dapat memberiku petunjuk. Dan sekarang kau adalah bagian dari semua kegilaan ini… alasannya karena kau sudah mengenalku, kau adalah seorang manusia yang hidup di dunia ini, dan jika kau tahu, semenjak lahir kau telah terlanjur menjadi bagian dari semesta yang sudah membuatmu menggila.

Yang ku tahu, Ini bukanlah surga…

Sekarang entah aku ada dimana, disini gersang, mungkin hujannya sedang sibuk di belahan dunia yang lain, atau mungkin bisa jadi hujannya pundung, marah tapi tak bisa bicara masalahnya apa.

Aku melihat banyak predator, entah karena tuntutan zaman atau karena di paksa garang oleh kebutuhan. Padahal dasarnya karena cinta, dari cinta berubah menjadi kepentingan, lalu kepentingan itu bermetamorfosis menjadi racun kimia yang seketika merubah bayi yang tadinya suci menjadi lonte, atau malah menjadi monster jahat yg suka memangsa manusia lain tanpa perasaan. Ini masa yang begitu aneh, seolah aku sedang begitu tertekan oleh datangnya tentara gajah yang satu jam lagi hendak menyita rumahku. Ya… ini zaman baru, mereka tidak mau rugi lah, uang itu kan tidak ada pabriknya sementara anak manusia sekarang di produksi dengan mesin. Aku tahu uraian ini memang sulit sekali di mengerti, dan kemudian aku merasa begitu cerdas karena syok tahu, tentang apa yang tidak diketahui manusia lain.

“Ya … ku harap aku tak pernah mengerti!” Pikirku sejenak.

“Mereka, ingin aku mati!”

Aku masih belum tersadarkan, ibarat sebuah hutan, terlalu banyak serigala di tempat ini atau ibarat sebuah film horor, terlalu banyak zombie, mereka meraung dan berlarian mengejarku. Cakar dan taring mereka seperti terpaku pada satu hal, yakni leherku. Tak ada seorang pun manusia, mengharapkan Dewi Kwan In muncul juga tidaklah mungkin, hanya bayangan ibuku yang hadir dalam benak, di balik semua kegelapan yang menjadi latar di alam pikiranku. Aku berlari begitu kelelahan, menerobos reruntuhan bangunan dan melewati banyak keraguan di persimpangan. Bau darah yang menyengat, selera makan zombie yang begitu dahsyat. Mereka muncul dari mana-mana, seluruh kota di huni oleh para zombie yang kelaparan. Dunia ini seakan percuma, berisi banyak mahluk namun mereka hanya berebut isi perut. Tak jarang zombie yang satu menikam zombie yang lain yang lebih gesit mengejarku. Tidak ada aturan main yang jelas dalam perlombaan ini. Darah hitam yang tumpah, mulut yang menganga penuh kebusukan, dan tatapan mata yang gelap tiada berakal. Mereka sungguh sangat biadab.

“Tidaaaak,” teriakku.

Aku masuk, hingga terperosot ke dalam gudang yang buntu karena kesalahanku. Membeliak mata ku mencari jalan, aku tak mau berhenti dan mati disini. Sudut yang satu ke sudut yang lainnya, gelap, cahaya tak bersahabat dengan ku. Begitu gugup sudah, aku terperangkap. Jarak yang ku buat dengan zombie tadi sudah bisa di harapkan. Beberapa di antara mereka datang, ku ambil kapak yang tergeletak. Tiada pilihan kecuali melawan, masih ku rasakan sisa tenaga di jasadku.

“Aaaaaarghttt,”sabitan senjataku.

Salah satu zombie yang berhasil mendekat sudah ku tebas kepalanya. Dua, tiga…, aku masih bersemangat. Ini lebih mengerikan ketimbang di anggap bersalah di muka umum dan tak ada seorang pun yang membelaku.

“Mati kauuuu!” Teriakku yang bersemangat.

Ku lihat ada sebuah tangga di ujung ruangan, aku berlari kesana-sini. Salah satu zombie wanita dengan muka yang berantakan menghadangku, dia melemparkan kursi dan mengenai kakiku. Tertatih, beberapa kali dia hampir mencakarku. Nyaris, kapak di tanganku terlepas. Tersudut, guci besar ku angkat dan ku hantamkan ke kepalanya. Berkeping, tubuh zombie wanita itu terkapar, tangannya masih bergerak. Sekali lagi,  kapak ku raih lagi dan kubelah kepalanya. Terlewat, aku berhasil naik ke lantai atas. Nafasku bergetar, hampir tak ada lagi akal ku bermain, aku menjadi juru selamat bagi diriku sendiri. Aku tutup sudah pintu, kuhalangi dengan lemari besar.

“Tidaaaaaak.”

Ternyata sudah ada satu lagi zombie di ruangan ini. Dia mendorongku, terbentur tembok punggungku. Aku berkulai di lantai, tenagaku sedemikian terkuras.

“Euuuuuuuurghhhht.”

Zombie meraung, jari-jarinya mengepal. Cahaya lampu yang berkedip-kedip menyinari wajahnya. Satu kenyataan pahit, di fase terpurukku, ku sadari kalau zombie itu adalah ayahku.

Bibirku bergetar menyapa, “Ayah… bukankah engkau? Adalah sosok yang hangat, dalam melindungiku, semenjak aku kecil.” Sejenak aku terdiam memandanginya, hingga tak tertahan air mata ku tumpah. Perang terburukku di hiasi dengan kenangan manis Ayahku yang kental .

“Aaaaaarghhhht, kenapa sosok ini datang, menghadapku?”

Padahal sepengetahuanku, hanya di tuliskan, bahwa ayah adalah jendralnya Tuhan yang sengaja di kirimkan semenjak aku terlahir untuk membelaku, dan memberiku segenap kekuatan. Tetapi tidak di alam ini, ini pasti tidak nyata. Zombie ini melangkah mendekat, dia hanya memberi ku pilihan terbunuh atau membunuh. Sekarang tangannya mencengkram bahuku, aku terkunci. Sepertinya memang sudah tidak ada keterikatan hubungan lagi semenjak segalanya berubah. Sedingin hati ku, sematinya rasa ku pada harapan, aku berontak. Tubuh rentahnya terjungkal, rasanya aku lebih tidak berakal ketimbang semua zombie yang terus mengejarku. Aku bangun dan ku hantamkan kapak berulang kali di kepalanya. Sudah ku pilih, aku adalah pembunuh tak berhati sekarang. Bahkan ingatan tentang hubungan manusia sekejap membeku karena keadaan. Aku tersentak tak percaya, kepala tertunduk, lututku menghempas ke bumi.

Waktu berjalan pelan, meredakkan denyut jantungku yang berdetak sangat cepat. Tak di beri kesempatan untuk sejenak rehat, pintu yang tadi terganjal dengan lemari akhirnya terbongkar. Begitu banyak zombie di muka pintu, aku lari menuju ke luar dengan menghantamkan tubuhku di jendela kaca. Jendela berhasil ku terobos, luka-luka tercipta di tangan dan kakiku. Tenagaku sudah benar-benar habis, pertikaian ini sungguh sangat tidak seimbang. Dari segala penjuru mereka datang. Mereka bergerak mengerumuniku. Sekejap menyeramkan itu berhenti, seberkas cahaya terang muncul dari sudut langit yang begitu pekatnya berselimut awan hitam.

“Mungkin Sang Yehuwa datang untuk menyelamatkanku.” Bisikku.

Namun… ternyata bola api, masih melekat di kebuntuan akalku, bagaikan di serang jutaan ide puisi, sekaligus jasadku tak mampu bertindak, saraf-saraf motorikku seperti tak di aliri listrik lagi. Lumpuh… aku… merasa sangat tiada berdaya, dan upaya, walau hanya untuk sekedar mendiktekan isi surat wasiatku. Beberapa detik diameter lingkaran bola api itu berangsur membesar, ini terlalu terburu buru untuk sebuah proses kematian.

“Tuhan… Allah… aku teramat takut.”

Hebatnya sekarang, dia ada di mulutku. Dia, kata pengganti untuk tuhanku di sudut pandang ke tiga. Aku memang bukanlah seorang jebolan pondok pesantren, aku tak pandai berdoa menggunakan bahasa Arab, apalagi untuk berhadiah. Aku sudah terlanjur tidak akrab dengan Tuhan semenjak kecil bahkan di dalam kesendirian perkara hidupku.

“Aku bukanlah seorang Ulil Albab, ahli zikir, Pastur, atau malah seorang Biksu, aku teramat payah soal ilmu komunikasi antara mahluk dengan Tuhannya.”

Hal yang paling ku takutkan adalah ketika pikiranku sendiri berkhianat. Apa jadinya jika aku harus menghadapi dunia ini hanya di temani oleh cara pandang yang negatif. Sementara sudah berbulan-bulan sejak aku merasa begitu kehilangan mataku selalu saja membeliak, sulit terpejam, seperti rakus ingin menyaksikan semua hal yang tak bisa ku atur kejadiannya.

“Siapa aku tanpa pikiranku?” Padahal setelah sesuatu muncul darinya, lelaki berengsek ini, kerap mendadak melontarkan egonya untuk sekedar menyangkal, bahwa akibat bukan di sebabkan oleh dirinya.

Jangan lupa dishare ya teman-teman….

 

2 thoughts on “Tolong Bangunkan Secepatnya #1

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s