Tolong Bangunkan Secepatnya #4


Authors: Rere Ebri & Iwan Lesmana

IV Pasar-Pasar  Di Trotoar  Neraka

“Siapa kamu? Sedang apa disini?” Lelaki setengah baya itu hanya terangkat ke dua pipi nya, sambil menjawab. “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Ini, adalah dunia ku!”

Pandangan mata ku masih sedikit lamur, kepala ku begitu sakit sekali.

“Maaf  Tuan… aku sudah begitu lelah dengan keterasingan ini, sudah lama aku tak bertemu orang-orang yang ku kenal. Kesendirian… dan semua peristiwa aneh yang ku lewati. Apakah kau bisa menolongku? Aku mau pulang? Semua ini terlalu menyiksaku.” Nafasku tersekal, pandanganku mulai pulih, ku lihat pakaian yang dikenakan lelaki ini compang-camping.

“Aku tak berkuasa untuk memberimu petunjuk. Tanyakan itu, pada dirimu sendiri?”

Angin menerpa tubuhku yang begitu merasa letih.

“Apa maksudmu Tuan? Aku berada disini bukan karena kemauanku, dan kemudian kau berkata aku harus bertanya pada diriku sendiri tentang bagaimana cara kembali. Apakah ini akhirat? Apakah aku sudah mati? Beri tahu aku Tuan?”

“Tidak ada kematian bagi orang sepertimu, lupakan dongeng akhirat, dan pergilah, Nak….”Lelaki tua itu seakan membuatku muak, tapi nyatanya aku tak mampu untuk berdiri dan memukul kepalanya dengan batu yang tajam.

“Kau tidak akan pernah mampu untuk sabar, kau hanya akan menangisi itu dan kemudian menjadi pecundang yang kalah dan selalu kalah oleh ketololan yang kau lakukan.” Hebatnya… tak ada sedikit pun ekspresi marah di wajahnya.

“Maafkan aku Tuan, aku tak bermaksud macam-macam. Aku hanya butuh pertolonganmu, aku sudah tidak berdaya dan putus asa. Aku tak tahu harus bagaimana lagi.” Lelaki itu diam, tiba-tiba dia menghampiriku dan kemudian dia mengusap wajahku.

“Sesungguhnya kau belum putus asa, Nak. Dari ke tidak sadaranmu masih terucap permohonan belas kasih, dan bagiku itu adalah sebuah tindakan.”

Seketika aku pulih, semua luka di sekujur badanku menghilang. Aku berdiri, ku sentuh pipi ku dengan ke dua tangan. Ini keajaiban, lelaki itu begitu sakti.

“Wahai Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?” Masih dalam moment keheranan.

“Semuanya adalah pertolongan Tuhan Mu!” Tak habis pikirku.

“Tapi engkau yang telah membuatku pulih dan sembuh, Tuhan tidak muncul bagiku, yang ada hanyalah dirimu Tuan, dan aku merasa begitu sadar tentang apa yang telah kau perbuat.”

“Siapakah nama mu Tuan? Dan… dari manakah gerangan kau bermuasal?”

Lelaki itu membereskan ranselnya, tampak bergegas.

“Kau adalah manusia yang lupa, namaku Tubagus Anom Nur Alim. Aku bermuasal dari sebuah tempat yang bersembunyi dalam terang.”

“Bersembunyi dalam terang? Dimana itu? Aku baru sekali ini, mendengarnya.”

“Kau tak perlu tahu itu nak, jika memang berjodoh, waktu akan mengantarmu kesana.”

Tuan Anom mulai beranjak pergi.

“Tunggu Tuan, mau kemana gerangan Tuan? Aku ikut dengan mu.”

“Untuk apa? kau sudah mendapatkan kesembuhanmu, kau sudah tak membutuhkan aku sekarang.”

“Aku memang sudah sembuh, tetapi aku tidak tahu harus kemana, menuju pulang pun aku tak mengenal arah.”

“Kau tidak akan sanggup mengikutiku. Kau akan merasa lelah, dan kau tidak akan mampu untuk cukup sabar berjalan bersamaku.”

“Itu menurutmu, Tuan! kau tidak tahu, kau baru saja mengenalku, di kehidupanku sebelum ini aku adalah orang yang begitu sabar, aku paham berjalan di dalam proses memerlukan itu, dan semua terbukti tentang aku atas pencapaian karierku, harta ku, cinta ku, dan….”

“Dan kondisi saat ini? Semua kehancuran ini, malapetaka yang baru saja menerpamu? Kau yang belum mengerti, Nak. Karena semua yang kau deskripsikan tadi itu hanya soal duniawi mu saja.”

“Apa maksudmu, Tuan ?”

“Sudahlah.. kita berpisah disini.”

Tuan Anom menuju ke barat, pertemuan dua sungai yang terlihat, aku mengikutinya di belakang.

“Kenapa engkau begitu dingin hati, Tuan? Seolah kau begitu amat membenciku, dan kau terus meninggalkan aku, langkahku, padahal sudah ku katakan bahwa aku membutuhkanmu?”

“Aku tak pernah membencimu, aku tak pernah membenci manusia, dan aku tidak pernah membenci setiap apa yang menjadi bagian dari alam semesta.”

“Sekarang biar ku pasrahkan kehendak, aku sudah bersih keras menolakmu, namun karena hasratmu sendiri kau berjalan mengikutiku, dan itu sudah menjadi pilihanmu, sebuah pilihan tanpa sebab.”

***

            Aku masuk ke dalam pasar yang aneh, orang orang disini menggunakan topeng. Senjata menghiasi laci mereka, sorot mata mereka tajam dan siap untuk membunuh kapan saja. Tak ada sapaan untuk orang tua, apalagi sesama. Langitnya mendung, mungkin sebentar lagi turun hujan. Akan tetapi bocah pengemis dipasar ini menuturkan:

“Hujan tidak akan pernah turun, langitnya sudah sering begini, fenomena kebohongan dan tipuan ini sudah sering terulang, terulang, terulang lagi dan lagi bahkan hingga sekarang semua itu tampak sudah menjadi karakter buruk seperti semua pelaku di pasar ini.”

“Mereka tak segan-segan melempar bom untuk mengalahkan musuhnya, menindas untuk menstabilkan neraca, dan bertindak licik untuk meraih untung serta kuasa.”

Bunyi angin yang seketika memekik.

“Berhentilah melamun, bangunlah!”

Kritik atas diamku, serasa tak percaya aku telah berimajinasi aneh ketika mulai masuk di pasar angkasa bersama, Tuan Anom. Begitu banyak mata yang tertuju padaku. Pasar ini begitu ramai, banyak sekali manusia yang terlibat dalam interaksi, barang yang di perdagangkan di tempat ini pun begitu variatif. Kios-kios berjajar, tersusun rapi, banyak pula yang bertingkat. Terkumpul namun tertata, rasanya hebat sekali manajemen ruang pasar disini. Tuan Anom mengajakku menepi di sebuah kedai, sederhana, dan sedikit memojok dari sudut jalan. Namun hebat pilihan tempat yang ambil oleh Tuan, disini kami sama sekali tidak kehilangan pemandangan ramai pasar. Biar lebih ku gambarkan, pasar ini mewah, tapi seperti bukan versi modern. Mungkin seperti pasar di zaman Babilonia sedang berjaya, mereka tampil artistik.

Di depan kedai, dua orang pemuda yang tiba-tiba berseteru mengalihkan pandanganku. Ku pasang telinga dan sejenak coba aku pahami, ternyata mereka berebut ribut karena menemukan sepuluh berlian. Pemuda pertama memaksa mendapat lebih karena merasa melihat berlian itu pertama kali, pemuda yang kedua juga demikian dengan alasan dirinya lah yang mengambil berlian tersebut dari tanah. Bang Berto menghampiri kemudian melerai mereka, pemilik kedai, lelaki berkacamata yang berperawakan sedang berpeliharaan kumis dan janggut sehingga sosoknya menjadi sedemikian eksentrik. Bang Berto menyarankan kesepakatan untuk penyelesaian konflik pembagian berlian itu di serahkan kepada Tuan Anom. Kedua pemuda setuju, mereka yang tadinya berkumpul di muka kedai kini menghadap Tuan Anom yang berada semeja denganku.

Dengan lembut Tuan Anom bertanya, “Mau cara Tuhan atau manusia?”

Pemuda yang mengenakan sorban di lehernya tertunduk, kemudian menjawab agar dibagi dengan cara Tuhan. Akibatnya, Tuan Anom memberikan delapan buah berlian kepada pemuda yang tidak mengenakkan sorban. Tentu saja aku yang pertama kali protes, ini persidangan yang jelas-jelas tidaklah adil di hadapan manusia. Pemuda yang mengenakkan sorban tersenyum.

Tuan Anom bergumam pelan, “Pergilah.”

“Aaaarrght, pemandangan macam apa ini?” Dalam hati aku berteriak.

Rasanya aku ingin berdiri, tanduk merah tumbuh di kepala ku. Kucekik leher pemuda bersorban tadi.

Aku berkata, “Hey tolol… kenapa kau terima saja? Apa kau takut kepada lelaki bernama Anom yang sudah melakukan kesalahan itu? Apakah sekiranya menemukan berlian seperti tadi dapat terulang lagi dalam waktu secepatnya?”

Pemuda bersorban tersebut hanya diam sambil menundukkan kepalanya.

“Jika soalnya seperti ini, apa yang bisa ku harapkan dari seorang Tuan Anom yang tidak cerdas mengambil keputusan dan tindakan? Apakah aku akan selamat? Semua orang di dalam kedai yang menyaksikan peristiwa ini pastilah beranggapan kalau Dia itu bodoh, dungu, dan menderita. Aku berdiri dari tempat duduk, belum sempat aku berargumentasi.”

Tuan Anom mendekat dan berkata, “Sejak awal sudah ku bilang kau tak akan mampu untuk bersabar, Nak.”

Aku tersentak mendengar celoteh itu, ya… ku akui sedari awal aku lah yang memaksa untuk mengikutinya. Tanduk setan ku patahkan, sayap-sayap ku tanggalkan, lagi pula ini bukan juga urusanku.

“Sudahlah….” Sehingga menetralkan imajinasiku.

***

            Aku memang hebat, sendiri pun aku begitu mahir mengontrol emosi dan suasana hatiku. Sepertinya aku memang di lahirkan dengan kemampuan otomatis untuk dapat mengendalikan perasaanku, aku tidak perlu mengkonsumsi alcohol atau mencandu opium untuk sekedar tenang dari gelisah, berkumpul bersama orang-orang mabuk agar aku merasa hidup, atau malah cek in bersama seorang lonte sebagai pelampiasan saja supaya aku tidak merasa kesepian. Sebuah patung berhala, menurutku. Tingginya sekitar tiga meter, berwarna putih, sebuah mahkota, jubah tanpa jahitan seperti keramat. Tangan kanannya terbuka, berdiri di depan pundaknya, wajah yang tersenyum, tegap seperti seseorang yang menyapa kawan lamanya yang baru saja tiba dari rantauan. Keluar dari kedai, Tuan Anom melanjutkan perjalanan. Belum sempat jauh ku temukan patung dewa itu di persimpangan jalan. Masih di sekitar pasar, area jual beli ini begitu luas, namun hadirnya sosok patung ini cukup mencolok bagiku. Tak ada seseorang pun yang mengingat namanya. Dia terbiasa di kenang sebagai apa, bukannya sebuah nama. Pertemuan ini membuatku ingin berziarah kepada masa lalu, padahal aku sama sekali tidak tahu tentang apa yang sekiranya akan ku hadapi. Di tempat ini, pertanyaan asal mula sudah sangat di lupakan. Kios-kios di pasar sudah ada disini, tapi tak ada yang mengingat bagaimana mereka dulu membangunnya. Tak ada yang ingat lebih dulu mana, patung atau pasar yang hadir di tempat ini. Mereka dan seluruh dunia ada begitu saja, masa lalu adalah kemarin yang sudah terlewat bersama kekurangan dan tak perlu di putar ulang.

“Bagaimana pula mereka bisa memiliki usia tertentu tanpa adanya kemarin dan masa yang terlewati? Bagaimana kios-kios mereka berdiri tanpa tangan mereka membangunnya?”

Tak habis pikirku, mereka dan pasar telah ada, aku lah yang mereka bilang singgah di tempat ini, ku terima semua apa adanya. Aku tidak akan berbohong bahwa aku baru saja menikmati giliranku yang tidak akan datang lagi.

Awalnya semua gelap, disanalah… bermimpi begitu buruk membuatku gemetar, terlalu banyak lahir kecurigaan. Bagaimana kenangan itu bekerja, berada di mana, dan kenapa. Imaji atas sesuatu atau bagaimana dirinya melihat imaji dari sesuatu. Apakah segala kecurigaan sungguh akan terjadi atau hanya sekedar mimpi di tengah hari. Kios-kios berderet. Jalan-jalan lurus. Lampu-lampu mulai di hidupkan. Semuanya seperti tiba-tiba ada disana.di hadapan tubuhnya yang tegak tanpa sekali pun mengedipkan mata, kemunculanku setelah waktu-waktu penuh keanehan. Kau harus tahu, bahwasannya aku tidak mempersiapkan ini dengan sempurna. Satu-satunya yang ku pikir sangat terkejut tentulah cara berpikir yang realistis saja, begitu dia melihatku, mengertilah dia bahwa selama ini kepada dirikulah dia meniru. Pada akhirnya, aku memang memunculkan wajahku, tapi urung membesar-besarkannya. Sebab setelah kemunculanku, ku temukan wajah patung itu begitu mirip denganku.

Baru saja patung dewa itu hilang dari tengok leherku. Seorang pria tidak waras menghentikan langkah kami, Tuan Anom mengangguk tanpa bicara apa-apa. Aku terperangah, pria itu kemudian menutup matanya dan dengan nyaring berpuisi:

Pengelana…

Dari manakah engkau datang?

Hendak kemanakah engkau?

Bulan telah tenggelam,

Namun sang surya belum juga muncul.

Dalam kekacauan kegelapan sebelum pagi,

Mencari cahaya,

Aku maju,

Untuk menghapus awan gelap dari pikiranku,

Untuk menemukan pohon besar yang tidak tertundukkan oleh badai.

Puisi nya terhenti.

Tuan Anom menjawab, “Aku muncul dari bumi.“

Pria tidak waras itu membuka matanya, lanjut dengan senyum simpul, kemudian dia menari.

Semilir angin yang menyentuh dedaunan, menyelip di antara batang pohon membunyikan irama. Sebuah orkestra tanpa campur tangan instrument buatan, alam seperti memadu suara. Gerak tubuh selaras dengan iringan musik semesta, wajahnya begitu serius menampilkan kesungguhan. Diam dalam dudukku, termangu, imajinasiku terbang bersama syahdu suasana. Ini pertunjukan mahal, Tuan Anom menikmatinya.

Langit menjadi gelap, tak terasa hari seketika berganti malam. Satu per satu orang berdatangan, mereka menghadap ke patung melantun kan doa-doa. Mereka membakar dupa, mengeluarkan sesaji dari dalam tasnya. Bahkan ada di antara mereka yang bersujud, merasakan keadaan terdekat dengan kramatnya Sang patung. Ini pemandangan aneh, teramat kontra dengan dogma-dogma yang tertanam di kepalaku semenjak aku kecil. Ini salah, dan menurutku aku wajib memberi tahu mereka. Rasanya sudah tak sanggup tenang dalam diam dan dudukku. Aku hendak bangun tapi Tuan Anom meleraiku, aku kembali tertahan. Sekarang aku melawan, ku hempas tangan sang Tuan yang coba menghalangiku. Terbangun dan ku hampiri mereka.

“Hentikan … Hentikan semua ini,” aku berdiri di antara wajah mereka dan berteriak dengan lantang.

Akan tetapi pesta kebodohan ini tampak hirau, mereka tak melihat keberadaanku, dan mereka tak mendengar teriakanku. Dengan sekuat tenaga aku mendorong satu per satu orang-orang, namun tak mampu ku sentuh mereka. Aku seperti roh di antara bentuk-bentuk fisik yang berada di muka bumi. Aku menangis, tak sanggup ku luruskan ideologi ku yang seolah berkata aku ini punya persepsi yang paling benar di antara teori kepercayaan sejuta umat manusia. Tuan Anom menarikku keluar dari kerumunan itu.

“Di dunia ini terlalu banyak urusan, baru sedikit saja yang kau kenal. Di alam ini terjadi banyak sekali perkara, sejuta masa lalu kemudian lahir. Paradima selalu berganti seiring musim, kau tak sepantasnya memvonis sesuatu hal hanya dengan bermodal pengalaman satu atau dua abad saja.”

“Apa maksudmu gerangan Tuan?” Masih terisak tarikan nafasku.

“Sudah ku bilang kau tak akan mampu untuk cukup sabar.”

Ini ke sekian kalinya aku tak mampu melawan kalimat pusaka dari mulut, Tuan Anom.

Pria tidak waras tersenyum kepadaku, masih berlanjut tarian yang sama. Aku, Tuan Anom, dan pria tak waras memang tak terlihat oleh orang-orang yang sekarang jumlahnya sudah membudak.

“Ritual sakral yang teramat melenceng, padahal tokoh yang di patungkan itu tidak pernah mengajarkan agar dirinya di sembah.”

Musik semesta alam lenyap di telan lubang hitam, pria tidak waras berhenti menari dan mulai bercerita: dahulu kala, Sandora lahir dan tumbuh di kota ini. Pada saat dia beranjak dewasa, kondisi pasar disini amatlah terpuruk. Sepi sekali pengunjung yang datang dari luar, karena terlalu banyak kecurangan yang di lakukan oleh para pedagang di pasar ini. Sebut saja itu masa kebodohan, akibat di perdaya oleh nafsu belaka serta sadisnya persaingan kepemilikan harta benda, banyak pedagang yang melupakan aturan. Pertarungan siasat dan sampai-sampai untuk urusan mengelabui calon pembeli, para pedagang tidak segan-segan menjual ayat-ayat Tuhan. Untuk dan hanya soal kepentingan para individu saja. Di dalam situasi rumit seperti itulah, secara tidak sengaja Sandora melakukan cara berjualan yang aneh. Kejujurannya soal modal harga barang dagangan telah merubah segalanya. Memang bagiku itu kebetulan, tetapi banyak juga para pakar analisis yang beranggapan jika di muka bumi ini tidak ada hal yang terjadi jika karena soal kebetulan.

Singkat cerita, kepercayaan yang sedikit lambat laun membuat minat pasar kembali meninggi. Sandora pun menjadi begitu fenomenal, cara dagangnya di ikuti banyak orang. Belum lagi dengan segenap pengetahuan tentang kebaikan yang juga dia ajarkan kepada penduduk kota ini.Akhirnya sandora di angkat menjadi raja, kemakmuran yang sebelumnya pernah hilang menjadi kembali sebagai dampak aktifitas pasar yang membaik. Namun sandora nyatanya adalah manusia juga, dia tidak hidup kekal memegang kendali sentosa. Setelah kepergiannya, penduduk kota pun membuat patung Sandora sebagai bentuk penghormatan terakhir. Sandora memang sudah tiada, akan tetapi bekas-bekas segala tingkah tanduk baiknya begitu masih terasa hidup beberapa generasi setelah itu. Mungkin karena dasar manusia yang terkadang suka terlalu cinta, distribusi cerita dari mulut bapak menuju telinga anaknya perlahan berubah pengertian di dalam alam pikir.Perasaan hormat bercampur cinta tadi melahirkan aktifitas perayaan, berlanjut dengan segala ritual yang terjadi di areal patung Sandora pada malam hari ini.

Sekarang sudah tahun tujuh ratus, tiga ratus tahun setelah kepergiannya. Doa-doa yang di panjat kan pun sedemikian berubah dari tempat tujuannya.

INTERMEZO

Terima kasih sudah membaca sampai halaman ini. Oh, ya… jangan bosan dulu, atau… jangan berpikir kalau cerita ini cuma omong kosong belaka.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s