Tolong Bangunkan Secepatnya #3


Authors: Rere Ebri & Iwan Lesmana

III Aku Bagian Dari Perang

Sembilan abad, dua puluh satu tahun, tiga bulan, dan tiga belas hari terlewati. Selama itu, aku tidur dan tidak ada seseorang pun yang mengetahuinya. Dimana aku dan ketika aku bangun, segala wujud alam semesta yang ku lihat telah berubah.  Ini negeri sentosa, alamnya permai, pohon- pohon, tanah yang gembur, dan latar langit biru yang tak habis di sudut mata. Aku larut menyaksikannya, tidak ada kata lapar, dahaga serta keringnya kerongkonganku.

“Mungkin ini surga,” pikirku.

Burung kenari berterbangan di antara pepohonan yang rindang. Sungai-sungai mengalir dibawahnya, airnya begitu jernih, ikan-ikan itu terlihat seperti terbang. Seekor burung kenari hinggap di pundakku, ingin rasanya menyentuh namun sekejap dia melompat, mengepakkan sayapnya, aku terbawa suasana dan mengejarnya. Beberapa kali aku hampir mendapatkannya, namun gagal hingga aku tertawa seperti anak kecil, mungkin karena aku sudah cukup bahagia dengan pengejaran yang ku nikmati. Tak terasa aku berlari, semak semak ku lewati, dan segerombolan pria Indian berkuda bermunculan dari seberang hutan. Mereka mengepungku, beberapa di antara mereka membidik kepala ku dengan busur panahnya.

“Hey orang asing! Apa yang sedang kau lakukan di wilayah ini?” tanya pemimpin dari gerombolan itu.

“Aku hanya tersesat di tempat ini, aku sendiri tak tahu kenapa aku tiba-tiba berada di tempat ini,” jawabku.

Seraya mereka tertawa, aku masih di dalam kepungan, tidak ada sedikit celah pun untuk berlari.

“Apakah kau pikir dirimu seperti Harut dan Marut? Gagal menjadi malaikat yang taat, kemudian jatuh dari langit begitu saja? Kau sudah gila!”

Dari belakangku seorang pria Indian kemudian menghantam kepalaku dengan balok kayu. Aku terjungkal, mereka nampak tak memberiku sedikit pun kesempatan untuk berdialog lebih panjang. Mereka mengikatkan tali di kedua tanganku, dan setelah itu mereka menyeretku pergi dari tempat dimana segala penyiksaan itu bermuasal.

***

Mister S dengan wajah seriusnya berkhotbah di hadapan seribu kepala, dia berkata: “Ini bumi kita, anugrah Tuhan yang terindah, kita berada disini untuk menjaganya dari tangan tangan perusak. Di pulau ini kita hidup, kita mendirikan kediaman, kita bereproduksi agar supaya generasi kita senantiasa menjaga semua ini.”

Dikubu lain Mister E melakukan hal yang sama, Khotbahnya:

“Ini bumi ciptaan Tuhan, nenek moyang kita jatuh ke bumi bukan karena menerima hukuman, melainkan karena adanya alasan lain, yakni sebagai konsultan untuk menciptakan perdamaian. Jika bicara tak memberi solusi maka menulislah, buat hukum dan peraturannya, jika hasilnya sama bergesek dan berkelahilah…, dan jika halnya satu lawan satu tak jua selesaikan masalah, kita harus siap berperang untuk perdamaian tersebut. Tuhan senantiasa membela kebenaran.”

Berhari hari pertikaian pun terjadi disana-sini, manusia jelata yang kurang cerdas pikirannya hanya menjadi korban kepentingan kedua juru khotbah atas dasar pengetahuan. Satu per satu orang bodoh mati, satu per satu penerima dogma masuk kembali ke dalam tanah sia-sia. Mereka hidup hanya sebagai boneka settingan guna memenuhi kepercayaan ke dua juru khotbah di masing masing kubu. Ini bukan serial cinta, disini tidak ada tokoh Hamdan dari kubu A dan Sari dari kubu B yang saling jatuh cinta padahal leluhur mereka bertolak belakang. Tidak ada akar muasal cinta dua anak manusia yang di kemudian hari menjadi obat, menjadi titik tengah, atau pun menjadi dasar perdamaian mulai semerbak untuk kedua pihak. Semua halusinasi ini terlalu menggangguku, kedamaian di atas muka bumi sepertinya memang di larang tumbuh. Rasa sakit yang timbul dari luka-luka bekas terseret di tubuhku bereaksi. Segala perih memaksa aku untuk bangun lagi.

***

            Bangsal 278, mata ku terbelalak, udara begitu dingin, menusuk sampai ke relung hatiku, membekukan rasa, mengkristalkan doa dan harapanku untuk dapat selamat dari mala petaka ini.

“Tuhan… jika halnya keselamatan bukan hak yang pantas aku pinta, ku mohon berikan lah aku kekuatan untuk tetap bertahan mempercayaimu.”

Ke dua tanganku terbelenggu rantai, ruangan sempit berwajah jeruji besi, sekarang aku bergelar tahanan. Sudah tiga hari aku tidak makan, tidak minum, dan tidak tidur. Cahaya dari jendela di sudut yang jauh itu adalah satu-satunya penandaku tentang bergantinya siang dan malam. Pulau yang begitu indah ini memang di huni manusia, bukan zombie lagi, tapi rasanya mereka tak kalah kejam ingin mematikan aku perlahan dengan proses seperti ini.

Keberuntungan, bunyi mesin pesawat jet yang terbang rendah. Gemuruh tembakan yang pecah membabi buta, suara teriakan banyak orang, belum lagi beberapa kali ledakan terjadi begitu kencang. Para tahanan berlarian di muka jeruji besi, terlihat seseorang berhenti, tanpa berkata apa pun dia membuka gembok ruang penjaraku. Dia masuk dan membuka borgol rantai di tangan kananku. Namun ledakan dahsyat merobohkan gedung, reruntuhan tembok dan atap mengubur kami hidup-hidup dalam sekejap.

Manusia adalah bagian dari system, takdir seseorang mempengaruhi takdir yang lainnya. Seribu penduduk ada, secara kasat mata takdir hidup mereka berada dalam setiap keputusan Sang Raja. Dunia adalah satu kesatuan yang padu, sejarah, saat ini, dan masa depan kelak. Alam materi yang terdiri dari segala partikelnya. Ada adalah tiada, yang tiada adalah kekuatan. Hilang karena sulit di pahami lewat bahasa, Maha tinggi Dia, Maha Besar.

Dia berkata, “Dunia… seperti itulah aku.”

Terbangun lagi, para sipir Indian telah berganti menjadi tentara bersenjata. Dari timbunan reruntuhan aku di angkat, semua tahanan yang masih hidup di kumpulkan di lapangan. Bangsal 278 sekejap menjadi sejarah, berubah lagi keadaanku. Gedung-gedung penjara yang masih tersisa, kesanalah kami di bagi. Ada tiga gedung lima lantai, gedung pertama menghadap ke utara, dua lantai pertama adalah kantin dengan jendela ram yang di cat biru sekelilingnya. Gedung ke dua, lima ratus meter di hadapan gedung pertama, menghadap ke timur. Dan gedung ke tiga berada berhadapan dengan gedung ke dua. Masing-masing lantai memiliki Sembilan bangsal dengan ukuran tiga meter kali tiga meter. Total bangsal penjara yang aktif sekarang menjadi 117 ruang. Dan dari setiap bangsal di isi oleh tujuh tahanan, tekecuali bangsal 68. Dua orang tahanan mati karena terjadi perkelahian antar tahanan tadi sore. Sekarang hari sudah malam, ada delapan ratus tujuh belas tahanan yang masih hidup. Mayat-mayat yang mati akibat serangan yang bertujuan mengambil alih gedung penjara ini sudah di buang ke laut.

“Zzzzzzzt… hey, kenapa patahan cerita di bagian ini sangat tidak asyik?” Analoginya kau sudah membuat orang merasa berada di pantai, lalu kemudian kau lempar ke padang pasir yang gersang secara tiba-tiba. Kau sudah membuat dirimu sendiri kebingungan. Kenapa seolah-olah kau begitu seenaknya membangun cerita absurd. Coba kau bayangkan, kau tempat kan aku di hutan, lalu kemudian satu demi satu pohon nya lenyap. Atau seperti ini, kau memaksa ku menatap langit yang begitu indah, tapi kemudian kau masukan satu per satu bintangnya ke dalam saku mu.

“Kau anggap dirimu Tuhan! Aku dan jasadku sungguh lelah keheranan menjalani naskah takdir yang sedemikian rumit kau tuliskan!”

Awalnya kau tempatkan aku di kota zombie, bertemu dengan sosok Ayahku yang berubah karakter, kemudian kau masukan aku ke dalam mimpi buruk, bertemu Grimriver yang sadis, terusir dari mimpi buruk, jatuh di pulau yang begitu indah, aku pikir itu surga, namun pada akhirnya kau datangkan sosok-sosok Indian aneh yang menangkapku, setelah itu mereka menyiksaku, aku di jadikan tahanan penjara, dan sekarang apa yang kau inginkan dengan munculnya tokoh-tokoh tentara bersenjata ini?

Baiklah, kau harus mulai belajar mendengar tentang apa yang kau ucapkan. Terkadang manusia terlewat sadar, dan setelah itu menjadi lupa serta seenaknya saja dengan apa yang di keluarkan mulutnya. Seolah-olah kau berpikir jika semua ini sia-sia. Dunia ini bukan pepesan kosong, berhentilah menganggap orang lain itu seperti ancaman, predator yang buas, zombie yang rakus, para Indian yang sadis, atau malah tentara bersenjata bisa menghancurkan gedung-gedung semaunya. Jangan memvonis jika Tuhan menciptakan dunia hanya untuk di kiamatkan maka itu percuma. Hilangkan imaji mu bahwasannya karena cinta lantas dunia menderita, buang persepsimu jika keinginan adalah sumber malapetaka, dan enyahkanlah prasangka jika teknologi dan modernisasi adalah awal dari segala bencana.

“Sekarang rebahkanlah, kosongkan segalanya dan biarkan aku mencoba menjelaskannya.”

Kau baru saja di bangunkan dari alam bawah sadarmu sendiri. Alam yang ada namun tidak berdimensi, kau telah hidup disana dalam keabadian. Tiada jasad, rohmu bergelantungan, dan semua keadaan badan yang kau rasakan saat di kejar zombie dan berhadapan dengan Grimgriver hanyalah fatamorgana. Kemudian kau ada, kau melihat alam yang begitu indah. Seperti bayi yang baru saja lahir ke dunia, ingatan mu sendiri tentang alam bawah sadar itu sekejap saja di hilangkan. Suasana keadaan baru memaksa mu untuk berpikir pada masa ini. Jangkauan dari ingatanmu menjadi pendek, ada pun soal masa depan, itu hanya kau dapatkan dari apa apa yang nyata terjadi di alam ini secara temporary sekarang. Suku aneh menangkapmu, kau menjadi orang asing disana. Itu keadaan baru, lingkungan baru yang di konsep memang sedemikian dengan alasan karena pada dasarnya kau memiliki kemampuan beradaptasi, atau setidaknya kau punya kemampuan untuk bertahan dan menerima kesaksian atas kejamnya suatu cerita yang memang harus hadir di muka dunia. Suku itu menganggap bahwa dogma dari para leluhur mereka harus terus di jaga. Alam dan tanah yang berharga ini harus tetap seperti awal mula adanya. Selain daripada mereka dan keturunannya, yang hidup mereka anggap tak berbeda dengan binatang buas yang suka membuat kerusakan dan saling menumpah darah. Itu alasannya, kau tak sedikit pun di beri kesempatan untuk beralibi. Saking fanatik nya, mereka beranggapan jika kata diplomasi hanyalah upaya akal-akalan dari buah pemikiran mahluk atau suku lain yang pada semua endingnya adalah sama, bertujuan untuk penghancuran semata. Mereka, suku Savana, leluhur dari suku Indian, aborigin, dan asmat ortodoks. Sudah menjaga bumi selama tujuh ribu tahun. Dan hari ini, sekejap mata kaum moderat dari utara yang punya senjata dan mortir telah mengambil alih semua kekuasaan.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s