Tolong Bangunkan Secepatnya #2


Authors: Rere Ebri & Iwan Lesmana

II Mimpi Burukku

Lorong waktu melempar aku ke sudut lainnya, disini aku sungguh terimpit sesak, suasana gersang masih ku rasakan. Tempat ini hanya berhuni bebatuan yang angkuh, waktu mengingatkan aku pada rotasi kehidupan, segala kesulitan yang ku ingat pernah muncul dari uraian curhat temanku Samsul.

Terjepit, ingin memilih tapi tak ada pilihannya, terkurung, menoleh ke belakang yang ada hanyalah jembatan roboh di antara jurang. Jurang berisi duri, besi besi runcing yg tajamnya juga berisi segala api yang menyala sambil cahayanya memproyeksi kan masa laluku yg penuh dengan kesombongan. Ini fatamorgana paling mengerikan, suguhan termahal dari lembar lembar pengakuan dosa.

“Pernahkah kau bertanya kenapa kita ada disini? Kenapa kita berjumpa dalam ikatan ruang dan waktu? Apakah ini benar sebuah kebetulan belaka? Kenapa kau berpaling wajah mementingkan dirimu sendiri? Urusanmu sendiri? Cinta untuk keluargamu? Keuanganmu sebagai pangkal hidup? Lantas apakah durja itu perasaanmu, padahal kita ini sesama mahluk tengah menggantungkan hidupku ini semata kepada hasrat dan belas kasihanmu?”

“Ku mohon…,sedikit saja.” Toleh mimpiku.

***

Wajahku sudah cemong karena debu, efek langit dengan sengat tiga bola matahari ini membuat kulitku rata terbakar sudah. Kantung mataku yang menghitam, pipiku yang menampakan tulang rahang, dan bau tak sedap yang kini menjadi bersahabat.

“Hey, manusia! Sedang apa kau disini?” Ucap Sesosok mahluk fiktif, dalam film-film kematian yang biasa kau tonton muncul di hadapanku. Wajahnya tertutup jubah, kerudung hitam, dan pedang sabit yang bergagang tongkat kayu berlumuran darah.

Grimriver, sebutan untuk sosok astral seperti ini, di film Harry Potter.

“Kau sudah memasuki kawasan mimpi terlarang, Kau harus segera pergi dari sini!” Ketusnya dengan kejam.

Di dalam ketidak berdayaan kakiku menopang tubuh, aku hanya di beri kesempatan menjawab pertanyaan tersebut, di dalam hatiku. Aku tak pernah menginginkan semua kesalahan ini, ke absurd dan fantasi, dan keburukan takdir atas tersesatnya aku di tempat ini.

“Itu adalah hasratmu sendiri.” Mahluk itu berteriak dan langsung menghunuskan pedang sabitnya ke kepalaku. Tak ada rasa lagi, semakin aku tak mengerti atas semua yang terjadi ini. Aku terbangun dan terlepas dari jasadku. Masih tak kupercaya, aku saksikan bangkaiku sendiri terkulai atas tanah, kepalaku terbelah, bola mata… ya… bola mata itu meleleh, mengeluarkan asap ke udara.

“Sekarang kau ikut denganku.”

Semesta seperti terhenti seketika, matahari kehilangan gombalan hebatnya untuk membuat planet-planet menari di masing-masing orbit. Rasanya ingin menangis, tapi air mata sudah minggat semenjak tahun ke delapan ratus di garis hidupku. Aku ingin kembali pada hidupku yang nyata, aku rindu rumahku, aku rindu ke dua adik lelakiku yang sering mengajakku berkelahi soal memperebutkan tempat tidur ketika malam mulai membuat kami mengantuk dan kesepian. Grimriver melemparku dengan sekuat tenaga.  Semuanya gelap, alam yang sedemikian gersang tadi redup dan hilang bersamaan dengan menutupnya mata ku. Ini bagian terburuk dalam hidupku, bahkan di dalam mimpi burukku sendiri aku terusir. Tiada tempat bagiku mengadu, memilih pun aku tidak di beri pilihan apa pun selain menjadi terasing.

Intermezo

Terima kasih sudah membaca sampai halaman ini. Oh, ya… jangan bosan dulu, atau… jangan berpikir kalau cerita ini cuma omong kosong belaka.

Baiklah, saya mau berbagi sedikit informasi yang baru saja saya temukan. Salah seorang dosen saya pernah berkata di jurusan ilmu arsitektur terdapat satu mata kuliah yang aneh sekali. Apa itu? mata kuliah tersebut adalah mata kuliah Diam.

Litotesnya, apa dasarnya Diam itu di pelajari?

Ok, beralih sedikit, korelasi antara temuan (baca: mata kuliah Diam) dengan topik saya, yaitu imajinasi adalah beberapa pertanyaan berikut:

Untuk orang Teknik

  • Siapa yang menanam pohon sutet (Menara dari susunan besi penyangga kabel-kabel besar yang tingginya sekitar 500 meteran) dan bagaimana prosesnya terjadi?

Untuk para Sales

  • Siapa pengarang cerita kebetulan Seorang pria jelek yang sedang melongo di pinggir jalan, kemudian di hampiri wanita cantik berbodi seksi, dan ujungnya terjadi transaksi jual-beli rokok?

Untuk para Seniman

  • Kenapa lukisan wanita kolot monalisa yang gak ada cakep-cakepnya bisa terkenal?

 

2 thoughts on “Tolong Bangunkan Secepatnya #2

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s