Cahaya Terakhir #4


Authors: Rere Ebri & Iwan Lesmana

IV Badik

Dari setapak ujung jalan terlihat Tomy mendekati aku dan Sarah, ribuan kata yang keluar dari mulutnya tak terhitung banyaknya. Matanya yang penuh gejolak menghentikan langkah kami. Dimana ribuan mata manusia terkesima mengawasi kami dalam keramaian.

“Hey, mau ngapain kamu?” kataku.

“Diam loe gembel! Jangan urusin masalah kita.” Jawab ketus Tomy.

“Sekarang Sarah urusanku. Jadi, tolong jangan macam-macam.”

“Sudah-sudah, apaan sih kamu Tom. Tolong dech, jangan ganggu aku lagi.”

“Tapi Sar?”

“Kita sudah putus! Titik.”

“Hey, Ian! Loe berani banget ya, ngeracunin pikiran Sarah.”

“Eh, jaga bicaramu ya!”

“Gembel, awas loe ya. Loe belum tahu, gue ini siapa?”

“Ala, gitu aja sombong banget, pake pamer lagi.”

“Loe, emank berani sama gue?”

“Emanknya loh pikir, gue takut apa?”

Suasana yang semakin memanas, hingga saling dorong-mendorong diantara kami berdua, dimana sebuah tangan kiri Tomy hampir mengenai pipiku.

“Toloong toloong.” Teriak Sarah. Lalu, nampak beberapa masyarakat berdatangan mencoba melarai pertikaian kami, hingga Ryo beserta rekan lainnya mencoba membantuku.

“Oh, beraninya maen keroyokan kalian? Tunggu saja pembalasanku?”

“Hey, anak Mami, pulang sono! Mau gue kepret loe apa.” Ujar Ryo.

“Gue, gak takut sama loe Ryo! Kalian tuh gadapapa, sampah semuanya!” Telinga Ryo terlihat merah memuncak tak bisa terhindar lagi, dimana kedua tangan Ryo meraih kerah baju Tomy, hingga saling bertatap muka.

“Sudah-sudah semuanya! Please donk, hentikan! Malu nih dilihat orang banyak? Kamu juga Tom. Tolong kamu pergi dech sekarang.” Ujar Sarah.

“Tapi Sar, gue sayang banget sama loe. Gue hanya gak mau hidup loe hancur dengan gembel-gembel seperti ini! Sekarang gue kalah, hati-hati aja kalian nantinya.” Ucap Tomy sambil mengacungkan telunjuk kearah kami satu-persatu.

“Huu, dasar anak Mami. Pergi sono!” Sorak rekan lainnya.

***

            Mengitari suasana yang bercengkerama dengan penikmat kehidupan. Jalan yang dulu kering terasa basah, menyelimuti pusat perbelanjaan ibu kota. Setumpuk pakaian manusia berkelas membuatku tak berdaya dalam cengkeraman komunitas seperti diriku. Tak aneh jika sesuatu yang berlebihan membuat sudut pandang mengalun-alun meratapinya, hanya butuh ekonomi lebih yang bisa menyeimbangkan antara kehidupan.

“Kak, kesini donk. Ini bagus enggak?” tanya Sarah ketika menunjukkan sebuah gaun putih kepadaku.

“Bagus. Emanknya kamu mau nikah apa, pake pilih-pilih gaun segala?”

“Idih, enggaklah Kakak. Nikah itu kan belakangan, tapi… ada yang lebih serius loh?”

“Serius! Coba ulangin.”

“Iye, seeriius. Kasih tahu enggak ya. Sebentar lagi kan a…,” tiba-tiba seorang wanita separuh baya memotong pembicaraan kami sambil memanggil Sarah dari kejauhan, aku hanya terdiam saja ketika melihat Tante Sarah yang menjengkelkan itu menghampiri kami berdua.

“Sarah kemana Tomy, kamu gak jalan bareng dia?” tanya Tante Sarah.

“Oh, sudah enggak Tante.”

“Maksud kamu?”

“Ya, sudah enggak.”

“Kalian bubaran. Astaga, kok bisa sih. Kalian itu kan serasi sayang. Loh, ini sapa?” tanyanya sambil menunjuk kearahku.

“Ini, Ian Tante. Masa lupa sih.”

“Maksudmu… tunggu-tungu. Bukankah dia teman waktu di SMA kamu bukan sayang.”

“Iya, benar banget Tante.” Tante Sarah menarik Sarah sedikit menjauhiku, dimana aku berusaha mendengar perbincangan mereka.

“Astaga, Sarah! Kamu gimana sih, dia itu gak level sama kita, jauh…,”

“Tante itu ngomong apa sih? Emank cinta itu harus melihat materi gitu?”

“Iya sayang. Emank apa sih… yang bisa dia berikan ke kamu. Dia itu hanya menginginkan uang kamu saja, biar Tante bicara sama dia…,”

“Jangan, Tante.”

“Sudah-sudah, kamu tenang saja.” Tante Sarah menghampiriku.

“Hey Ian. Kamu kesini naik apa, kalo Tante boleh tahu?

“Naik motor, Tante.”

“Aduh, Ian. Kamu tau enggak sih? Kalo Sarah itu gak biasa naik begituan, dia itu lebih suka naik mobil sport, bukan naik motor! Tolong dech, kamu jauhin Sarah mulai dari sekarang. Apa kamu paham? Emank, kamu gak punya otak apa? Apa kamu gak tahu, kalo Sarah itu  sudah punya tunangan yang jauh lebih baik masa depannya dari pada kamu, dasar anak kampung!” Sebuah kata-kata yang menggores pikiranku membuatku harus menghadapi gejolak batin yang demikian mendalam. “Sarah, ayo sekarang kita pulang!”

“Tapi, Tante. Ian….” Jeritan Sarah memanggil namaku berkali-kali ditengah paksaan Tante Sarah menarik lengannya, hingga begitu saja meninggalkan berkas bayangan yang berkecamuk dalam diriku.

***

            Kamis malam, aku berkumpul dengan para sahabat jalanan. Mengayunkan keindahan demi memecahkan konflik secara kebersamaan. Kerinduan tak menentu merupakan misteri yang harus kupecahkan, dimana hubungan jauh bukan penghalang diantara persahabatan walaupun nantinya aku akan melanjutkan studiku ke luar negeri. Namun, intinya aku harus bisa menggapai masa keemasanku yang hanya menunggu waktu saja. Wajah-wajah kesedihan pun mulai nampak kurasakan.

“Demi kebaikanmu, Ian. Lanjutkan impianmu.” Ucap Jaka sambil di dukung teman lainnya.

“Makasih teman-teman.” Kataku.

“Yang penting, jangan lupakan kita saja kok.”

Aku mentap mereka dengan serius sambil saling memandang.

“Hahaha.” Dimana kehangatan canda gurau kami dalam keharmonisan malam ini.

“Pastilah, kalian kan sahabat terbaikku.”

Tiba-tiba Ryo menyelinap masuk dalam kekeluargaan ini.

“Hey, ada apa ini rame-rame?” tanya Ryo.

“Mau tahu aja gitu? Kasih tahu gak ya?” ucapku.

“Ian-Ian, mau ke India!” Ujar Jaka.

“India? Inggris mungkin.” Sahut Ryo.

“Ohhh Inggris. Hebat atuh Ian. Aku titip salamku aja ya, buat Steven Gerrard.” Ujar Jaka.

“Hahaha.” Suara kami pun seakan meledak dalam menghanyutkan suasana di malam ini.

Tiba-tiba sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan kami, hingga keluarlah seorang gadis dari kendaraan tersebut.

“Hai.” Sapa Sarah kepada kami, dimana membuat yang lainnya terkesima saling berpandangan muka. “Maaf gangguin waktu kalian sebentar? Boleh gak, aku bicara sebentar aja sama Ian?”

“Wow.” Ucap Jaka sambil memukul lenganku.

“Baiklah.” Kataku. “Maaf teman-teman semuanya, aku tinggal sebentar ya.” Kami melangkahkan kaki bersama di bawah sinar rembulan yang tak jauh dari para sahabatku, sambil duduk bercengkerama . “Tumben, ada apa nih?”

“Ya, cuma mau meluruskan masalah yang kemaren saja.”

“Oh, yang kemaren. Sudahlah, lupakan saja kok, Dek.”

“Tapi… ada lagi nih Kak. Yang ingin Adek katakan ke Kakak?” Aku seakan merasakan ada sepucuk kebahagian yang bersinar di wajahnya malam ini.

“Emank, satu laginya apa, ayo?”

“Eehmm, ayo tebak donk Kak.” Ucapnya dengan manja sambil tersipu malu.

“Apa ya?” pikirku sambil mengaruk kepala.

“Begini Kak, malam minggu ini kan Sarah ulang tahun, Kakak datang ya?”

“Oh, ya.” Kataku. “Kok, Kakak ampe lupa ya.” Dimana dia hanya senyam-senyum memandangiku.

“Bukannya sudah keseringan.” Ujarnya sambil mengejekku. Lalu, dimana dari arah belakangku, aku mendengar suara jangkrik, mendekat, hingga menghampiri kami.

“Eehmm, Neng kita di undang juga gak?” ucap Jaka sambil mengedipkan matanya ke arahku.

“Boleh, kalo kalian mau ikutan, malah aku senang kok, kalo kalian semua bisa datang.” Ucap Sarah dengan tersenyum.

“Iyeee, kita ikut.” Ucap Jaka dengan kegembiraan bersama sahabat lainnya.

“Oh ya, Dek. Kakak ampe lupa memperkenalkan kamu dengan sahabatku.” Lalu, secara cepat aku memperkenalkan mereka satu-persatu kepada Sarah.

“Senang ya. Bisa berkenalan dengan kalian semuanya.” Sapa Sarah.

“Kita juga kok, Neng.” Ujar teman-teman menyahutinya.

“Ngomong-ngomong, dari mana Adek tahu? Kakak ada disini?” tanyaku kepada Sarah

“Kan tadi Adek SMS Ryo.” Dimana Ryo senyam-senyum aja memandangiku.

“Oh, gitu ya.”

“Kak,  maaf ya Sarah harus segera pulang, Sarah takut Oma nyariin.” Ucapnya. “Oh ya, Ryo. Alyssa jangan lupa diajak iya?”

“Beres,dech.”

“Ya sudah kalo kamu mau pulang. Salam untuk Oma ya.”

“Iya, Kak. Okay, semuanya dach.” Ucap Sarah sambil melambaikan tangan kanannya sambil masuk kedalam mobil.

“Hati-hati ya, Neng.” Ucap teman-temanku. Dimana Sarah begitu cepat, luput dari pandangan kamu semua.

“Gile, kamu Ian. Hebat juga ilmumu.” Ujar Jaka mengeledku.

“Biasa aja kalee.” Ucapku.

***

            Tomy menghampiriku dengan membawa seribu luka lama, ketika aku mulai tersudutkan di sebuah kantin kampus bersama Boni. Dimana tak seorang pun berani mencampuri urusan kami, semua mata berhembus begitu saja, dengan sikap Tomy yang berkuasa.

“Hey, gembel! Ternyata loe ngumpat disini ya…,” Ucap Tomy.

“Kenapa, emanknya?” tanyaku.

“Hey, mana temanmu Ryo, dan yang lainnya. Apa mereka takut berhadapan dengan kita-kita.”

“Hahaha.” Suara para sahabat Tomy bergema di telingaku.

“Sekarang, urusan kita akan cepat terselesaikan.” Ujar Tomy. Aku menatap para sahabatnya sedang mengerumuniku. Aku hanya mencoba mencari celah saja untuk menghindar, mungkin ini bukanlah lawan yang setara untukku. Tiba-tiba, Tomy ingin memukulku.

“Hey semuanya, ada Rektor tuh.” Kata Boni mendekat sambil mengedipkan mata kepadaku. Dimana aku melihat Tomy merasa panik Berlebih-lebihan, hingga memandu para sahabatnya untuk bubar.

“Ingat Ian! Urusan kita belum selesai. Nanti, gue bakal bikin perhitungan lagi sama loe pada. Ucap Tomy dengan nada kesal.” Dimana akhirnya dia meninggalkan kami berdua begitu saja.

“Bon, makasih ya sudah membantu.” Kataku.

“Sama-sama kok, Ian.” Ucap Boni. “Mentang-mentang orang kaya, pengen semaunya saja.”

“Sudahlah, Bon. Yuk kita balik ke kelas saja.”

***

            Malam minggu bahagia, aku menepati janjiku untuk datang ke ulang tahun Sarah bersama Ryo, Jaka, Alyssa, Boni, dan sahabat lainnya. Ucapan selamat pun aku panjatkan kepada Sarah walaupun nantinya dia akan sedikit kecewa terhadap kado yang sudah kuberikan padanya. Dimana aku berada tak jauh darinya, hingga nampak segerombolan manusia sombong bersama Tomy menghampiri Sarah.

“Selamat ya, Sar” Ucap Tomy bersama rekannya sambil bersalaman, hingga menebarkan senyuman.

“Makasih ya Tom, kamu sudah mau datang.” Kata Sarah. Dimana rasa  kecurigaanku mulai berdatangan hingga menjadi sebuah pertanyaan besar tentang kehadiran Tomy.

“Masa sih, Gue gak bakal datang ke ulang tahunmu, Sar. Oh ya, gue ampe lupa nih.”  Ucapnya sambil tepuk dahi. “Ini, kado spesial untukmu Sar.” Aku melihat mereka saling memandang. Disela itu, aku melihat Tante Sarah yang menjengkelkan, mencoba untuk mendekat.

“Hai Tom, akhirnya kamu datang juga dech. Tante kangen banget sama kamu. Aduh, kamu tahu enggak sih? Bahwa Sarah itu loh, sudah nungguin kamu dari tadi. Hey, ini kado darimu ya?” tanya Tante Sarah sambil  menunjuk kado tersebut.

“Iya Tante.” Jawab Tomy.

“Kalo boleh Tante tahu? Isinya apa ya, Tom?”

“Ada dech, Tante? Yang terpenting, itu kado spesial banget untuk Sarah.”

“Oh, gitu ya. Emank gak boleh di buka apa?”

“Boleh kok Tante, asal Sarahnya mau.” Ujar Tomy, dimana Tante menjengkelkan itu melirik kearah Sarah.

“Sayang buka donk, kado dari Tomy?” rayuannya kepada Sarah.

“Sudah Tante, nanti ajalah.” Jawab Sarah sambil mengelak karena melihat keberadaanku.

“Kok kamu gitu sih sayang, ayo buka donk sekarang. Atau kamu mau Tante aja yang buka untukmu.” Terlihat Sarah sedikit kesal dengan tingkah laku Tantenya. Namun, akhirnya dia dengan terpaksa membukanya. Dimana aku melihat sebuah cincin yang berkilau indah terpancar menyelimuti hatiku.

“Maafin aku Tom, aku gak bisa nerimanya.” Ucap Sarah sambil mengembalikan kado tersebut kepada Tomy.

“Tapi Sar, Ini kan untukmu? Atau kamu ingin yang lain saja?”

“Bukan gitu, Tom.”

Tomy mulai menarik nafasnya panjang-panjang.

“Iye, gue tahu! Kenapa kamu menolaknya Sar, karena dia kan?” tanya Tomy sambil menunjuk ke arahku, dimana kekecewaan timbul di pundak Tomy.

Tiba-tiba secara mengejutkan, Tante Sarah memegang sebuah kado pemberianku sebelumnya untuk Sarah.

“Hello, teman-teman Sarah semuanya, coba lihat ya.” Sorak Tante Sarah sambil membuka kadoku. “Masa pacar Sarah mau ngasih Sarah hadiah beginian. Mau taruh dimana otaknya? Dia pikir Sarah itu mau apa? Boneka kelinci jelek beginian.”

“Hahahahaha.” Terlihat hampir semua tamu undangan menertawaiku.

“Apaan sih, Tante?” tanya Sarah dengan nada kesal.

“Sayang, dia itu gak pantas buat kamu? Lihat pakaian mereka aja pada dekil semua. Dan bau lagi? Emanknya mereka pikir pantas bergaul sama kita?” Dimana hinaan Tante Sarah itu membuat telingaku semakin panas.

“Eh Tante, tolong dech jaga ucapanmu itu!” Kataku menghampirinya.

“Coba dech, kalian lihat kelakuannya.” Ucapnya sambil menarik perhatian para tamu lain. “Di kasih tahu dia malah marah, seharusnya kamu itu harus tahu diri bukan sebaliknya. Dasar anak kampung!” Aku merasakan seakan emosiku semakin meningkat tajam ketika para undangan terbahak-bahak menertawakan kami lagi.

“Hey, manusia sombong! Apa perlu saya tampar mulut kamu!” ujarku.

“Kak, apaan sih kamu ngomong gituan?” tanya Sarah sambil memarahiku.

“Kakak hanya gak terima dengan sikap Tantemu yang kelewatan batas ini, Dek!”

“Kak, tolong dech jaga bicara Kakak! Dia Tanteku.”

“Sudah-sudah Sar, dia emank gak pantas di sini.” Ujar Tante Sarah.

“Tom, tolong kamu bantu Tante usir mereka semuanya!” Perintah Tante Sarah dengan kemarahan menunjuk kami. Dimana Tomy beserta rekannya mendekati kami, hingga terjadi keributan. Aku yang sedang bertikai dengan Tomy, dimana tak sengaja pukulanku mendarat kemuka Tante Sarah, ketika mendekatiku, hingga membuatnya jatuh pingsan. Lalu keributan tersebut seakan terhenti. Dimana aku melihat muka Sarah berkecamukan memandangiku dengan penuh amarah.

“Kakak apa-apaan sih, apa Kakak sudah gila apa! Nyelakain Tanteku.” Aku hanya terdiam saja mendengar perkataannya yang sedang terbawa emosi. Aku terkejut, ketika dia menampar pipiku di depan umum, dimana Tomy tersenyum hebat dengan sikap Sarah.

“Sudah-sudah, Ian. Sebaiknya kita pulang saja.” Ucap Ryo kepadaku, sambil kami berlalu.

***

            Aku bersama Boni melepaskan dahaga di kantin seberang kampus, demi menghilangkan kegelisahan yang menghampiriku sepanjang ini. Aku melihat segerombolan manusia sombong mendekatiku lagi kali ini, hingga menyilatkan lidah tentang kejadian di malam minggu waktu itu. Aku mencoba menahan diriku.

“Teman-teman, mau tau enggak ya? Disini ada gembel loh, yang enggak tahu malu.” Ucap Tomy kepada para rekannya.

“Hahaha.”  Sindiran rekan Tomy yang mulai menyengat.

“Masa sih ulang tahun pacarnya cuma di kasih boneka kelinci. Ala, kere banget tuh manusia.”

“Huhuhuhu.” Ujar mereka semua. Aku mulai naik pitam.

“Udah, Ian tenang aja jangan di risaukan omongan mereka.” Ucap Boni mencoba menenangkan diriku.

“Eh, gembel lawan gue sini, berani gak? “ ucap Tomy menantang amarahku, dimana aku tak bisa menahan lagi, mencoba mendekatinya sambil terjadi cekcok mulut diantara kami berdua, dan perkelahaian pun di mulai. Namun, aku merasakan ketidak seimbangan ketika aku menjatuhkan Tomy ke lantai. Dimana temam-teman Tomy mulai mengeroyokku. Beberapa tangan mendarat di perut, dan pipiku.

“Toloong toloong.” Teriakkan Boni. Namun, sesaat kemudian aku mendengar suara menggelegar dari belakangku, dimana Ryo beserta rekan lainnya mulai berdatangan. Sebuah keributan besar tak bisa di hindarkan lagi, dan menjadi lawan yang sepadan. Lalu, bantuan terbesarku terjadi, ketika teman-teman jalananku ikut berdatangan. Keributan semakin memuncak, dimana kantin tersebut menyulap sedemikian rupa menjadi kapal pecah. Seketika saja, aku melihat Jaka mengeluarkan sebuah badik dari pinggangnya, dimana aku tak mampu mencegahnya, hingga menusuk perut Tomy. Dalam sekejap perkelahian itu terhenti ketika melihat Tomy tak berdaya. Aku melihat sekumpulan satpam menghampiri kami, dan berhasil menangkap sebagian yang terlibat perkelahian termasuk aku dan Ryo. Akhirnya kami dibawah ke sebuah ruangan tertutup, dimana Rektor mengintrogasi kami satu persatu, hingga mengancam akan mengeluarkan kami atas kejadian tersebut walaupun aku mencoba membela diriku, dan para sahabatku. Wajah panik pun mulai berdatangan dari segala penjuru arah, dimana akhirnya aku berusaha mempertanggung jawabkan atas kejadian tersebut demi menyelamatkan yang lainnya, dan juga melindungi Jaka dari jeruji besi untuk kedua kalinya. Dimana Rektor menggelengkan kepalanya terhadap apa yang tak pernah dia bayangkan selama ini terhadap anak juara kampus sepertiku.

***

                           Dua hari lamanya, aku mengurung sendirian dalam sel berbau menyengat. Aku mengambil sikap seolah-olah akulah yang telah menusuk Tomy, sebuah langkah yang tepat untuk membantu Jaka supaya terhindar dari jeruji untuk kedua kalinya, dimana kala itu Jaka pernah terkurung di karenakan keadaan yang memaksanya untuk menjambret tas milik seorang gadis supaya bisa mengisi perutnya yang sedang kelaparan. Terkadang jika kita melihat kebawah, hanya segelintir manusia saja yang peduli terhadap sesamanya yang mengalami kesulitan hidup. Ini adalah sebuah perumpaman, apakah Sang Pencipta itu maha pengasih ataukah penyayang? Jika melihat makhluknya yang sedang kesusahan atau tertindas oleh makhluk lainnya. Jika Sang Pencipta itu memang ada keberadaannya? Tunjukan kekuatanmu untuk melenyapkan makhluk-makhluk yang sombong dari muka bumi ini untuk selama-lamanya. Akhirnya, dimana Sarah menyisakan waktu untuk menjengukku, dia merasa marah atas apa yang telah kulakukan terhadap Tomy walaupun aku berusaha sedemikian mungkin untuk menjelaskannya, namun dia tak mau mengerti.

“Kak, sebaiknya hubungan kita berakhir disini aja!” ucap Sarah.

“Kenapa?” tanyaku sambil memandangnya. “Apa kamu malu, memiliki pacar yang berbeda kelas, dan sedikit brutal sepertiku?” tanyaku lagi yang sedikit emosi.

“Ataukah, Kakak ini hanya mempersulit hidupmu.” Gumamku. “Jika itu benar, pergilah!”

“Bukan begitu, Kak.” Jawabnya sambil merintihkan air mata di sekujur pipinya yang halus.

Disela itu, aku nampak terkejut, ketika melihat Tante Sarah menjengukku juga.

“Eh, anak kampung! Berani-berani kamu ya, ngelukain Tomy. Apa kamu sudah bosan hidup? Dan pastinya, saya bakal bikin hidupmu sengsara disini.” Ujarnya dengan mengancam. Aku hanya terdiam sambil memahami perkataannya.

“Udah, Tante.” Kata Sarah.

“Sayang, kenapa sih? Kamu masih saja, ngembelain anak kampung seperti ini!”

“Bukan begitu, Tante.”

“Sudah-sudah sayang, biarkan saja dia membusuk disini!” Ketusnya sambil mengarahkan telunjuk kearahku dengan kejam. “Sayang, ayo kita pulang.” Dimana Tante Sarah mencoba menarik tangan Sarah untuk mengajaknya pulang.

“Maafin aku, Kak.” Ucap Sarah sambil meninggalkanku.

Akhirnya terbesit di pikiranku, tentang apa yang pernah di katakan Ryo sebelumnya terhadap Sarah, memang  telah teruji kebenaran, dimana sebuah perbedaan kelas ekonomi adalah pemicunya. Dimana menjadi tantangan tersendiri untukku bergerak lebih maju diantara keseimbangan. Namun, setelah itu Ryo mendatangiku.

“Ian, gimana keadaanmu?” tanya Ryo.

“Sehat kok. Lalu, gimana kabar Jaka?” tanyaku.

“Oh, dia baik. Dan dia juga mengutarakan penyesalannya untukmu.”

“Ya sudahlah jangan di khawatirkan yang penting sekarang Jaka aman, dan tidak ada orang yang tau bahwa dia pelakunya.”

“Iya, aku tahu besarnya pengorbananmu dalam melindungi Jaka.”

“Iya, aku hanya tak ingin meihat Jaka masuk penjara untuk kedua kalinya.”

“Oh, ya tadi aku lihat Sarah melintas sambil menangis, mank ada apa sebenarnya dengan kalian?”

“Dia menginginkan hubungan kita berakhir.”

“Ya, sudahlah kawan lupakan saja Sarah… masih banyak kok wanita lain yang lebih baik darinya. Sekarang kamu sudah tahu kan, tentang segala kepribadian Sarah? ” Ucap Ryo menyemangatiku.

“Iya, maafin aku Yo sebelumnya, yang tak pernah mendengar nasehat kamu.”

“Ya sudalah, jangan dirisaukan. Oh ya, kamu tenang saja. Aku beserta rekan lainnya akan mencoba mengeluarkan kamu sekuat tenaga dari jeruji ini.”

***

                           Keesokan harinya kasusku di tutup. Dimana Ryo telah menjadi juru selamatku, hingga kini aku bisa melakukan keseharian di kampus. Ryo menceritakan kepadaku tentang keterlibatan Tomy dalam mengkonsumsi narkoba dan terlibat perdagangan juga kepada kedua orangtuanya dengan beberapa bukti nyata. Dimana akhirnya, Ryo mampu melakukan negosiasi terhadap kedua orangtua Tomy untuk menjamin kebebasanku, dengan kesepakatan tidak melaporkan kasus Tomy kepada aparat polisi.

***

            Dua minggu selanjutnya, aku melihat kemesraan Tomy bersama Sarah yang tak bisa di elak lagi, dimana aku mencoba kabur dari pandangan mereka walaupun sesekali aku melihat Sarah mencoba mencuri pandang kearahku. Rasa dendam para sahabatku semakin menjadi-jadi, hingga kini membuat permusuhan diantara dua Fakultas, walaupun terkadang aku merasa khawatir akan terjadi keributan lebih besar dari pada sebelumnya.

***

               Menjelang Wisuda, kesedihan bercampur bahagia pun kami rasakan, dimana alunan kebersamaan seakan pudar di tenggelamkan sang waktu. Kini aku lulus dengan hasil yang sangat memuaskan, hingga siap memasuki petualangan baruku ke black country. Dimana teriakan para sahabat menyemangati untuk berkumpul kembali di masa yang akan datang, hingga nampak terdengar suara Sarah memanggil namaku berulang-ulang kali, dan mencoba menghampiriku seperti ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. Namun, aku mencoba untuk mengelak walaupun rasa sayangku tak pernah pudar sedikit pun untuknya, tapi langkahnya harus terhenti ketika para sahabatku mencegah dirinya untuk mendekatiku.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s