Cahaya Terakhir #3


Authors: Rere Ebri & Iwan Lesmana

III Tomy

Dibawah pohon besar yang sedemikian pucat, dan bertuliskan luka karena beberapa sayatan senjata tajam. Aku terdampar tak jauh dari sebuah pertengkaran, dimana penasaranku semakin menjadi-jadi, ketika aku melihat Tomy, dan Sarah yang sedang mengadu mulut, hingga aku menyembunyikan diri di balik semak-semak dedaunan.

“Sarah… Please donk, maafin aku… kok kamu gitu sih…,” Ucap Tomy

“Maaf… percuma aku memaafkan kamu Tom! Kamu gak bakalan berubah sedikit pun? Aku capek nasehati kamu berkali-kali! Apa kamu ingin masa depanmu hancur? Jika kamu menyadarinya, tolonglah kamu menjauhi kebiasaan burukmu mulai dari sekarang.”

“Iya pasti, Sar. Aku akan mencobanya. Aku janji tapi aku butuh waktu, Sar?” Sarah menghelakan  nafasnya panjang-panjang, kekecewaan timbul dari raut wajahnya yang nampak halus. Namun, aku tak mengerti, masalah apa yang sedang mereka ributkan? Sebuah kesempatan baik untuk menarik perhatian Sarah yang sudah aku tunggu-tunggu selama ini.

***

Setumpuk berbatuan yang berderet indah dalam menghiasi sebuah kolam ikan hias yang mulai tersudutkan, dimana aku memancarkan pesona yang tak luput dari pandangan Sarah. Sesosok gadis misterius yang sedang kutaklukan, mencoba memberikan panca indra.

“Sini donk Ian, mendekat? ” sapanya.

“Kamu, kenapa Sar, kok tumben kesini?”

“Lagi butuh udara segar saja, kok.” Ujarnya dengan menghelakan nafas dalam-dalam. “Ngomong-ngomong, besok kamu sibuk gak ya…,”

“Hmm, kayaknya enggak dech! Emanknya ada apa, Sar?”

“Gimana kalo besok… kamu temanin aku ke tempat kita biasanya? Gimana… mau enggak?”

“Maksudmu? Tempat nongkrong kita waktu di SMA gitu?”

“Ya, betul banget dech….,”

“ Okay, kalo gitu diriku akan selalu siap menemanin sang putri yang cantik jelita kemanapun engkau berada…,”

“Idih, dasar gombal.” Iya, ini adalah salah satu cara yang terbaik dan sudah kutunggu-tunggu untuk dapat menarik simpati Sarah kembali.

***

            Resah-rusuh, itulah atmosfer kelas kami yang tak kunjung berbeda sepanjang hari, maklum kaum lelaki mendominasi kaum wanita. Aku merasakan jika kelak ada yang menganggu salah satu diantara kami mungkin pasukan perang ini akan siap menyerbu. Wajar, jika lelaki sedemikian kompak, apalagi nama Ryo terpampang ibarat komandan tertua, dimana sebuah perbincangan di mulai.

“Hey, kawan!” Ucap Ryo. “Kamu, gak ngerasa aneh gitu dengan sikap Sarah. Apa Kamu sudah lupa dengan kejadian waktu itu! Aku sedikit kecewa dengannya. Dan kamu harus tahu Ian, bahwa Sarah itu berbeda jauh dengan kita, dia itu dari kelas elite sedangkan kita ya… hanya kalangan bawah. Dan pastinya, dia selalu di manjakan dengan kemewahan! Dia hanya ingin mempermainkan kita saja. Tapi sekarang terserah kamu lah, aku tak ingin mencampuri urusan kalian berdua.” Ucap Ryo.

“Iya aku tahu tapi… Sarah sudah berubah kok. Dia cuma ingin membangun kembali persahabatan diantara kita lagi.” Aku melihat tatapan mata Ryo masih membesit dengan penuh kekecewaan terhadap Sarah selama ini.

“Ya, terserah kamu saja dech Ian. Hanya mengingatkan saja.”

“Bagaimana dengan Tomy? Apa mereka sudah putus?”

“Mungkin.”

“Kok kamu gak tahu! Kamu tentunya sudah tahu kan… Tomy itu anak donatur  terbesar di kampus kita. Aku hanya ingin engkau berhati-hati aja, kalo ada apa-apa jangan  sungkan hubungin aku, anak itu emank harus di kasih pelajaran!” Aku melihat kibaran bendera perang masih melekat di hati Ryo, kenapa tidak? Waktu itu, Tomy dengan sengaja menyerempet anak jalanan yang merupakan salah satu sahabat kami sample terluka dengan mobilnya.

***

            Sehelai benang kusut bagaikan mengisi kehampaan ini, sejenak aku berpikir keras, dan berharap penantianku terhadap Sarah untuk mengirimkan kabar atau apalah yang penting dapat mengisi pikiran kosongku. Ternyata aku mendapat pesan dari Ryo yang ingin berkunjung ke rumahku.

Dia bersama Alyssa mengisi rumah yang sepi, dan berhawa salju ini, dimana membahas tentang tugas skripsi yang sibuk akhir-akhir ini. Aku melantun tak terarah jika seorang menanyakan tentang ilmu agama padaku.

“Kak, Ian udah sholat, belom?” tanya Alyssa.

“Suah-sudah, kok.” Kataku sambil menepisnya.

“Gimana, Kak?” tanya Alyssa.

“Apanya.”

“Ya, sama Teh Sarah, sudah jadian iya…,”

“Kok kamu tahu sih, kalo Kakak dekat sama Teh Sarah?”

“Iya tahulah, Alyssakan sering ngelihat Kakak yang bertingkah sering aneh kalo ngelihat Teh Sarah.”

“Iya, masih dalam perjuangan, bukankah semuanya butuh proses. Bukan begitu?”

“Emank sih. Tapi Kakak berusaha donk, jangan cemburut kayak gitu.”

“Sudah-sudah! Nanti juga Ian bakal sadar.” Sahut Ryo.

“Maksudnya, Kak Ryo?”

“Gapapa, ikut mendukung aja.” Ya itulah, sebuah kata-kata yang akan menggores perasaanku. Apakah aku harus menantang Ryo yang selalu saja membawa gejolak tentang masalah persahabatan ini? Sesungguhnya, aku hanya ingin membicarakan ini dengan sebaik-baiknya, dan mencari waktu yang tepat untuk mempertemukan kami bertiga. Aku tahu bahwa Ryo selalu ada disampingku jika aku membutuh pertolongan yang sangat serius.

“Kawan, tolong pinjam gitarmu donk?” ucap Ryo kepadaku kearah gitar yang tergeletak di sofa.

“Ya, sebentar aku ambilkan.” Lantunan nada-nada klasik, dan pop mulai mengisi atmosfer ruangan ini. Iya, hanya untuk menghilangkan kegalauan saja untuk sesaat. Jari-jari panjangnya yang menancap di senar-senar gitar sungguh memukau, petikan, hingga kocokan yang enak di dengar yang mana mataku tak berkedip untuk mengamatinya. Alyssa begitu terkesimak dengan kelincihannya dalam membawa suasana di malam ini. Namun, suaranya terasa menyengat bagaikan aliran listrik yang sedang menyambar seseorang.

***

            Keesokan hari, kami bertemu di sebuah toko Book & Cafe, sebuah tempat keistimewaan yang berada di daerah pinggiran kota. Semenanjung kenangan melekat erat disini, hingga terpukau melihat kehebatan dunia. Keseriusan wajahnya yang memandang sedemikian nampak.

“Kamu mau pesan apa, Ian?” tanya Sarah.

“Air putih saja dech.”

“Serius nih, selain itu?”

“Udah Sar, nanti saja lah.”

“Kamu mau tahu enggak? Kenapa aku mengajak kamu kesini?” Aku hanya menggelengkan kepala mendengar celotehannya. “Sebuah tempat yang indah, berisi segudang ilmu, dan berbagai minuman kesukaanku. Dan yang penting hari ini, kita bisa bersama lagi. Gimana kabar Ryo?”

“Oh, dia baik-baik saja kok.”

“Iya, aku tahu betul bahwa aku ngerasa bersalah waktu itu, menghancurkan persahabatan kita bertiga. Kamu mau tahu? Kenapa diriku tak menjawab pertanyaanmu, malah aku lebih memilih diam dan pergi begitu saja? Karena aku tak ingin melukai perasan orang-orang terdekatku termasuk kamu, Ryo dan Tomy. Namun, hari ini aku mau mengutarakan sesuatu kepadamu bahwa aku sudah tak memiliki hubungan asmara lagi dengan Tomy, dan aku ingin menjadi sahabat baikmu atau… kekasihmu! Jika kamu tak keberatan. Mungkin ini sedikit konyol tapi jujur aku menyukaimu, hingga memendam perasaan suka yang dulunya goyang karena di makan waktu. Apa kamu gak keberatan, menjawab atas pertanyaanku?”

“Sarah.” Kataku.

“Iya Kak.” Sebuah gesekan yang mulai kurasakan, apakah ini pertanda impianku mulai terkabul, tak ada yang istemewa dalam hidupku selain dirimu, dan daya pikatmu yang begitu tajam. Gadis yang misterius mengungkapkan perasaannya dengan terbuka tapi apakah kejujuran ini terbukti. Iya itulah sebuah pertanyaan yang akan kupelajari selanjutnya. Dia membuka lebar mulutnya.

“Cuma bercanda, Ian.”

“Apa?” tanyaku dengan serius.

“Gapapa, aku hanya mengujimu tapi…, ini adalah keseriusanku yang sesungguhnya.”

“Aku…,”

“Aku apa?”

“Iya menerima perasaanmu dengan tulus donk, Sar.” Suatu kehidupan yang terkadang sulit ditebak walau ini hanya baru permulaan.”

“Eehmm, Kak boleh gak aku melihat kalung yang ada dilehermu?” tanya Sarah dengan manja, dimana aku melepaskannya, hingga Sarah menyentak kagum memegangnya.

“Persis, Kakak masih ngenjagainnya sampai saat ini.” Ujar Sarah dengan kebahagiaan. Dimana itu merupakan sebuah kalung terindah yang diberikan Sarah untukku, sebagai lambang persahabatan kami waktu di SMA.

***

            Puluhan manusia berjejer di sebuah kantin yang hirup pikuk, selalu memandang satu sama lain. Aku hanya memastikan, apakah Sarah sedang berada disini.

“Eh kawan, celengak-celengok aja.” Ucap Ryo.

“Iya sedang mengamati aja, kalo perusuh datang.”

“Boni… ahh kulihat disana tuh. Paling-paling godain anak Fakultas sebelah.”

“Hahaha.” Serentak kami tertawa.

“Hai,” Sarah menyapa kami.

“Boleh ikutan gabung gak ya?” tanya Sarah.

“Ya boleh kok.” Jawabku.

“Hai, Ryo… gimana kabarmu?”

“Baik, tumben kamu kesini Sat, apa gak jalan sama… siapa itu namanya?”

“Tomy, maksud kamu?”

“Ya, itu dia.”

“Hmm, sudah-sudah.” Bisikku sambil menginjak kaki Ryo.

“Gapapa, Kak Ian. Mungkin itu akan lebih baik, emank semuanya tak akan mudah untuk di lupakan. Aku hanya ingin meminta maaf kepada kalian semua, atas apa yang pernah terjadi. Aku mohon, maukan?” Lalu, tiba-tiba ekspresu Ryo berubah sambil tersenyum.

“Ya, itu tuh… kata-kata yang aku tunggu-tunggu. Hey, Sarah. Tolong traktir aku ya.” Aku menggelengkan kepala karena melihat sandiwara gila itu.

“Okay, siap! Emank kalian mau pesan apa?”

“Apa aja dech.” Ucap Ryo sambik menahan rass lapar.

Akhirnya, jam istirahat pun sudah hampir selesai, kami pun bergegas untuk masuk kelas.

***

            Seribu penantian menghanyutkan diriku untuk bernostalgia. Penelusuran sedang di mulai dalam mencari kesempurnaan, dimana aku dan Ryo menyempatkan diri untuk bertemu rekan lama kami. Iya, hanya sekedar ingin tahu saja, bagaimana kabar mereka disana? Rasa senang pun kami panjatkan setelah sekian lama tak kunjung bertemu.

“Hahaha.” Canda kami berkumpul demi menghiasi sore ini. Suasana yang dulunya gersang seakan berubah menjadi subur. Iya, ini semuanya telah di mulai dari niat untuk mencapai titik terang. Sederet jajanan trotoar mulai dari pedagang, hingga seniman muda berbakat menghiasi keindahan ibu kota, yang tak lain mereka adalah anak jalanan demi mengais rezeki. Aku hanya berpikir, tak ada yang sulit bagi kita untuk membangun perubahan jika kita saling membantu sesama lain. Sederetan lagu penghibur lara kami lantunkan demi menarik perhatian para pengunjung dalam menghanyutkan suasana ini. Tak sungkan-sungkan mereka melemparkan beberapa lembar uang kertas, hingga tepuk tangan yang begitu meriah. Lalu, melintas sebuah kendaraan Tomy memasuki jalan setapak. Rasa kekhawatiran bercampur emosi pun seakan timbul dalam benak para sahabatku, namun Ryo sanggup meredakan situasi ini.

“Suah-sudah, tolong ikutin saja kendaraan itu.” Perintah Ryo sambil memberikan petunjuk kepada salah satu anak jalanan lainnya.

Aku bertanya-tanya dalam hati, ada apa ini sebenarnya. Apakah Tomy sedang mengikutiku atas apa yang sudah kuambil dari dirinya.

“Ah, Sarah bukan bonekanya. Dia bisa memilih yang terbaik untuk pasangannya.” Gumamku serius dalam hati.

“Ada apa kawan?” tanya Ryo kepadaku

“Sedikit membingungkan. Jangan-jangan Tomy sedang mengawasiku.”

“Tapi kupikir, tidak.” Ucap Jaka salah satu rekanku. Dimana Jaka merupakan seseorang yang di tuakan oleh anak jalanan lainnya. Dimana kala, Jaka masih menyimpan dendam tersumbat terhadap Tomy ketika menabrak anak jalanan lainnya.

“Kok Tomy bisa-bisa aja berada di sekitar sini?” tanyaku.

“Iya, aku tahu. Aku sering melihatnya akhir-akhir ini.”

“Berarti kamu tahu? Kemana dia?”

“Tunggu-tunggu, aku pernah melihatnya berkumpul dengan sejumlah pemuda yang tak aku kenal. Iya, seperti melakukan sebuah transaksi gelap di sebuah gedung tua, tapi aku tak tahu pasti transaksi apa itu karena aku hanya mengawasinya dari kejauhan.”

“Hahaha, sebentar lagi rahasianya akan terbongkar.” Ujar Ryo.

“Maksudmu?” tanya Jaka.

“Iya, gitu dech.” Jawab Ryo.

Aku berkata, “Ini saat yang tepat, dimana kita harus melakukan penyelidikan. Iya seperti ala detektif saja.”

“Hahaha.” Serentak kami bersemangat.

“Okay! Kita tunggu aja kabar selanjutnya dari teman kita.” Ucap Ryo.

Perputaran waktu, mengantarkan kami memasuki cahaya redup. Kendaraan yang padat di malam ini, hingga di ikuti pengendara yang berhenti demi menjajankan diri. Sebuah ide kreatif Ryo mampu mencuri hati para pengunjung. Bagaimana tidak? Jika tempat itu di sulap seindah mungkin, dan di iringi musik-musik dangdut, hingga jajanan yang murah meriah dengan kesepakatan untung di bagi rata demi mencukupi kebutuhan hidup semuanya. Iya, tak perlu mahal-mahal yang terpenting laku, dan memiliki pengunjung setia. Apalagi kita ini senasib dan seperjuangan.

***

            Aku mencoba menyelamatkan diriku dari kepungan para penjahat, dimana aku berteriak, dan berusaha untuk melarikan diri. Namun sesaat, kegelisahanku datang ketika jam alaramku berbunyi keras, dimana aku terjatuh dari tempat tidur, hingga aku baru sadar bahwa ini semua hanyalah mimpiku saja. Suasana minggu pagi merupakan hari baikku untuk berkumpul dengan  pasangan atau sahabatku. Namun, aku nampak kebingungan ketika mendengar seseorang mengetuk pintu rumahku, membukanya dan ternyata Sarah telah berada di depan teras rumahku.

“Kacau-kacau, apa yang akan kulakukan sekarang jika Sarah nampak kecewa denganku.” Bisikku dalam hari. Sederet kesedihan yang kurasakan, hingga membuat aku tak bisa menepati janji sendiri. Dimana aku memandang jam dinding yang telah menunjukkan pukul sepuluh pagi.

“Hai.” Sapa Sarah.

“Sorry-Sorry, Kakak kesiangan.” Ucapku.

“Ya sudahlah, Kak. Santai saja masih keburuh kok.” Dimana keseriusan tatapan matanya membuat aku tak berkedip sedikit pun.

“Kak, kamu kenapa? Memandangi Adek kayak gitu?”

“Gapapa kok.”

“Ih, aneh dech! Ya sudah mandi dulu sana.”

“Emank bau, ya?”  tanyaku sambil bercanda. “Tunggu… Adek mau nungguin disini, ataukah di dalam?”

“Iya bau kalee? Di sini aja dech, lebih enak kok, adem.”

Dimana senyum Sarah yang mulai menggoda seakan meyakiniku untuk memasuki dunia batinnya.

“Iya-ya dech, tunggu sebentar ya.”

***

            Memandang keindahan alam bersama sang kekasih, dimana kami menelusuri flora dalam menginspirasikan kehidupan. Gadis yang mampu memberikan sejuta senyumku. Suaranya yang tak henti-henti mendeskripsikan sesuatu yang tak ingin aku tahu. Iya, aku hanya menganggukkan kepalaku saja demi menyenanginya walaupun sedikit membosankan.

“Hmm, diam aja.” Ucap Sarah.

“Iya maaf.”

“Kak coba tebak dech, bunga apa nih?” Dimana aku mencoba memperhatikan dari keseluruhan bentuknya, hingga sudut terkecil pun. Namun, aku tak tahu harus menjawab apa.”

“Ayo tebak Kak? Tapi kalo Kakak salah, ada…,”

“Emanknya, ada apa?”

“Iya hukumannya donk!”

“Waaduh, kok gitu sih?” Aku menarik nafasku secara perlahan-lahan. “Sebentar-sebentar kalo di lihat-lihat sih seperti bunga matahari tapi warnanya tuh beragam. Please… petunjuknya donk?”

“Hmm, kasih tahu enggak ya? Okay, huruf awalnya adalah A, ayo tebak?”

“Sebentar-sebentar.”  Aku mulai mendapatkan sebuah jawaban tapi sedikit meragukan. “Asoka…, Anggrek, atau?”

“Kok Kakak hebat sih, ampe-ampe semuanya salah dech! Yang benar aster, tahu.”

“Ampun dech.” Kataku sambil menundukkan kepala.

“Kak, sebaiknya kita kesana saja yuk?” Dimana aku dan Sarah memandangi seluruh mawar yang begitu mempesona. Iya, aku tahu bahwa dia pasti menginginkan aku untuk memetiknya, dan tak lain hanya untuk ganjaran hukumanku. Dimana aku mencoba menengok kesana-kemari, hingga memetiknya. Setelah aku mengambilnya, aku melihat seorang penjaga kebun bunga tersebut berlari ke arah kami.

“Hey-hey. Dasar anak sekarang! Main ambil aja!” Dia mengomel lebar, dimana kita berusaha kabur dari kejarannya. Lalu, sesaat…

“Kak bantuin donk?” teriak Sarah memanggilku, ketika aku berlari mendahuluinya. Dimana hatiku seakan terkejut ketika melihat kaki Sarah yang sedang terkilir.

“Iya ampun dek, kok pake jatuh sih? Sini, Kakak gendong aja?” Aku sedikit khawatir, ketika melihat penjaga kebun tersebut hampir mendekati kami. Namun, kami berusaha berlari secepat mungkin dan kabur dari pandangannya.

“Kak, gak marah kan.” Ucap Sarah, ketika aku mengendongnya.”

“Iya banyak.”

“Ngambek dech. Iya-ya aku minta maaf atas hukuman Kakak.” Sebenarnya tak ada yang perlu di permasalahkan, hanya untuk mencari perhatian lebih saja. Wajar, donk? Nama juga lelaki.

***

            Menatap jauh panggilan jiwa yang meratapi diantara pemikiran klasik hingga kontemporer, dimana aku sedang mengamati seseorang yang sedang berdoa. Setelah itu, dia keheranan, hingga mendekatiku.

“Nak, ada yang bisa Bapak bantu?” tanya Ustad itu.

“Iya, aku sedang memiliki masalah serius.”

“Apa masalahmu, Nak?”

“Apa hanya dengan berdoa, Sang Pencipta bakal membantu kita?”

“Iya, berdoa adalah sebuah jembatan dalam kita meminta pertolongan kepada Allah sehingga di mudahkan pintu rezekinya.”

“Hmm, kira-kira kapan ya… dia akan mengabulkannya? Apakah mungkin dengan kita berdoa meminta rumah bakal diturunkan sebuah rumah dari langit tanpa kerja keras?”

“Kenapa engkau bertanya begitu? Mendingan kita sholat Azhar dulu saja, dan nanti sesudah itu kita bahas lagi masalahmu?”

“Gapapa, Pak. Terima kasih.

Lalu, aku pergi begitu saja, tanpa merisaukan orang tersebut. Beberapa meter aku melangkah, Alyssa memanggilku, hingga mendekatiku.

“Hai Kak Ian. Habis dari mana saja?” tanya Alyssa.

“Dari itu tuh,” Aku memucat sedemikian rupa, dimana Alyssa mencoba memandang kearah masjid tersebut, hingga aku harus luput juga dari pandagannya. Ketika aku hampir menjauhinya, aku melihat Alyssa mendekati Ustad tersebut sambil menggelengkan kepala mereka melihat tingkah lakuku.


Keesokan harinya Alyssa mengundangku untuk berkunjung ke rumahnya, hingga aku terpaksa menyanggupinya. Iya, aku hanya tak ingin di katakan pecundang, itu bukanlah tipeku.

“Kemari Kak. Silahkan masuk, maaf sedikit berantakan.” Ucap Alyssa.

“Iya gapapa, santai aja kok.” Aku melihat beberapa kaligrafi islam menghiasi dinding rumahnya, hingga beragam buku di dalam rak yang demikian bnyak.

“Ini Kak, ada sesuatu untuk Kakak. Jangan lupa dibaca ya, Kak.” Aku memandang sebuah buku keagamaan itu dengan berkeringat dingin. Sebenarnya aku sudah menduga, apa yang ingin dia lakukan padaku bukannya aku tak mengerti soal tersebut, hanya meragukan saja. Namun, kuarahkan tatapan mataku kearah pintu masuk, dimana aku melihat Ryo menampakkan dirinya sambil memperhatikanku dengan serius. Ryo mendekati Alyssa sambil membisikkan sesuatu, dimana aku mencoba menangkap suaranya yang samar-samar.

“Dek, perlahan saja… Ian sedikit tersesat dalam masalah keagamaan.” Hanya itulah suara yang jelas bisa aku dengar.

Beberapa lembar halaman buku telah kubaca, mencoba untuk menghayatinya. Iya, aku hanya memastikan saja, kalo ini tak ada yang keliru. Sarah bersama Ryo menghampiriku sekitar pukul delapan malam. Sarah menceritakan tentang kisah Nabi Musa yang di berikan mukjizat dari Allah untuk menenggelamkan Raja Firaun beserta prajuritnya di tengah laut. Aku hanya bengong saja mendengarnya. Lalu, Ryo hanya terkulai saja tanpa menceritakan sesuatu, bagaimana tidak? Mungkin akan ada perdebatan panjang jika Ryo yang mendeskripsikan sesuatu yang tak jelas.

***

            Terpaan angin pantai sungguh menyejukkan perasaanku. Dimana aku, Sarah, Ryo dan Alyssa berkumpul di bawah hangatnya mentari, melukiskan beberapa bait kata-kata di atas pasir berkarang, hingga membuat janji untuk kebersamaan.

“Teman-teman, coba lihat keatas dech, ada yang beda loh.” Kata Alyssa sambil mengarahkan telunjuknya kelangit. Semua mata terkesima melihat ketakjuban alam seperti membentuk kata love. Iya, kupikir itu hanyalah sebuah pergerakan awan yang tersapu oleh angin, dimana mereka berkumpul membuat sebuah keunikan tersendiri.

Kedua mataku memandang tak henti-hentinya terhadap seseorang yang begitu aku puja, perasaan bahagiaku yang mendalam menghanyutkan kebersamaan. Dimana langit biru seakan menjadi saksi bisu dalam menjalani kenyataan ini. Kelembutan bercengkerama melunakkan sebuah gejolak yang dulunya terbesit oleh amukan sang ombak. Segemerlap cahaya yang menyinari jiwa ini dan ragaku merupakan awal titik terangku dalam mematahkan sebuah pencarianku walaupun baru perumpaman saja. Tak ada yang istimewa dalam hidup jika engkau jauh dari angan-anganmu.

“Teman-teman, mau enggak? Kalo kita berjanji untuk selalu bersama selamanya?” ucapan Sarah sambil memikat hatiku.

“Boleh tapi… ah, gue ada ide nih? Gimana kalo pake jari kelingking sebagai janji kebersamaan?” ujar Ryo dalam meyakini kita semua.

“Hmm, menurutku… boleh juga tuh idemu.” Jawabku sambil tersenyum.

“Hahaha.” Serentak kami menyemangati kebersamaan hingga menjelang petang tiba.

***

            Keindahan pancawarna memukau memandangi sebuah bangunan megah walaupun suasana terasa gelap,  dimana aku berusaha menyempatkan diri demi mengantarkan Sarah pulang. Iya, tak ada yang perlu di cemaskan dalam hidup ini. Dimana kita harus mensiasati sesuatu untuk bergerak lebih maju. Jalan utama semua itu, hanyalah pendidikan jika engkau ingin melampaui sebuah kecepatan cahaya. Dan tak ada sedikit pun rasa maluku untuk memarkirkan kendaraan Vespaku ditempat tersebut.

“Kak, masuk ya?” ucap Sarah.

“Boleh dech.” Dimana secara perlahan aku berusaha menantang diriku di sebuah sofa yang begitu lembut dan memikat.

“Dek, ngomong-ngomong pada kemana yang lainnya, kok sepi ya?”

“Iya biasalah, paling tidak Tante lagi shoping aja. Kalo Oma ada sih… di kamarnya tuh. Ngomong-ngomong, Kakak mau minum apa?”

“Apa aja boleh dech, yang terpenting nyonya rumahnya ikhlas, dech.”

“Ih, kok ngomong gitu sih, iya ikhlaslah.”

“Ya sudah, Kakak tunggu sebentar ya,”

Tiba-tiba seorang perempuan tua yang mulai rapuh karena termakan usia, mendekatiku, dimana berusaha memasang kaca matanya yang begitu tebal, sambil memandangiku seperti kebingungan.

“Naak, Ian yaa?”

“Iya, Oma. Masih ingat saja, Oma” Kataku.

“Nak Ian, kemana aja selama ini, kok mulai jarang kesini ya?”

“Biasalah Oma. Ian dan Sarah kan beda Fakultas, jadi emank jarang ketemu, cuma dapat kesempatan aja kale ini.”

“Ohh gitu ya.”

“Oma, sehat kan?”

“Iya masih seha, kok. Cuma sekarang Oma harus rutin aja buat chek up ke rumah sakit, maklum Oma udah tua.”

“Syukurlah, Oma sehat.”

“Saraah,” teriak Oma.

“Iya, Oma…,” jawab Sarah dari arah dapur. Lalu, dimana secara mengejutkan Sarah menghampiriku sambil membawa minuman “Ada apa, Oma?”

“Kesini atuh Neng, di temanin donk temanmu ini.”

“Iya barusankan Sarah lagi bikin minuman Oma.”

“Emank Bik Ema, kemana atuh?”

“Aduh Oma gimana sih, bukannya Bik Ema lagi pulang kampung.”

“Oh iya, Oma ampe lupa,”

Lalu, sejenak aku menatap Sarah memeluk Oma dengan segenap kasih sayang. Aku merasakan kecintaan yang nampak berlebihan.

“Ya sudah kalo gitu, kalian lanjutin saja ngobrolnya. Oma mau masuk kamar dulu ya… Nak Ian?”

“Iya, Oma gapapa kok.”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s