Cahaya Terakhir #1


Authors : Rere Ebri & Iwan lesmana

I Diantara Sahabat

Dialah Sarah yang ku kenal dulunya…

Aku curahkan ribuan kata membesit yang hingga kini bersemayam dalam netbook kesayanganku. Dimana hatiku hanya mampu menggeram kesal mendengar segerombolan manusia memaksa masuk ke dalam ruangan sempit ini. Aku mencoba menoleh wajah kesana kemari, dan menatap jauh keseberang jalan… disana aku melihat seorang lelaki berwajah tampan menghampiri seseorang gadis yang pernah kuidamkan selama ini. Hingga di ruas jalan yang berserakan ratusan dedaunan runtuh aku mencuri pandang melihat sahabat karibku berlari kencang hingga mendekap tubuhku.

“Ughh… ughh… ughhhh.” Desahku merasakan kesakitan.

“Ada apa lagi lah… kawan?” tanya Ryo mencemaskanku.

“Sakit tahu!”

“Oh, sorry-sorry kawan.”

“Waaduhh itu kan Sarah… ngapain ya disitu tuh anak?” ucap Ryo sambil menunjuknya.

“Ah, mana ku tahu emanknya gue pikiran apa!”

“Idih, jangan gitu donk… pake cara ngambek lagi!”

“Hu, biarin aja.. loh mau ngomong apa kek pokoknya gue gak peduli!”

“Iye-iye, dasar loh Ian.”

Lalu, kami terdiam sejenak, dan aku terkulai senyum menatap Ryo yang mengajakku untuk berdamai.

“Hahaha.” Kami berulang kali menepuk meja dengan keras tanpa memperhatikan orang di sekitar.

Seorang Ibu separuh baya begitu antusias menoleh kearah kami, mulutnya sedikit mencemoh, entah apa gerangan yang sudah dia ucapkan, namun dia segan untuk menegur kami.

“Woy cukup!” Ujarku menepuk pundaknya.

“Iya-ya tahu.”

Aku memfokuskan diriku ke sebuah tangan panjang Ryo yang berani menggeser netbook di hadapanku. Terlihat jarinya yang melintik penuh ambisi tersentak beberapa kali mengklik beberapa folderku. Namun langkahnya harus terhenti sejenak layaknya memandang sebuah keindahan persahabatan dimasa silam.

“Sedikit menghibur kawan.” Ketika memandang tiga orang sahabat memperkenalkan diri dalam sebuah layar. Dimana aku, Ryo, dan Sarah merupakan sahabat baik semenjak kami duduk di bangku SMA. Namun hal itu hanya kenangan saja ketika Tomy perlahan memasuki kehidupan Sarah.

“John Lennon-John Lennon.” Gumamnya memandangi fotoku.

“Eehmm.” Nampaknya dia mengenal betul sang legendaris satu ini. Itulah aku yang selalu terobsesi dengan passion seseorang.

“Hahaha…,” tawa Ryo dengan keras. Mendadak aku memucat layaknya orang yang sedang jatuh sakit.

“Ah masa lalu.” Mencoba mengelak dengan wajah sedikit memerah.

“Tenang…, bercanda Ian jangan di masukin donk!”

Kini, nampak disebuah meja lebar yang masih membekas noda, terlihat kedua tangan asyik mengadu jotos sebagai mana mestinya para anak lelaki sekarang.

***

            Hangatnya mentari di pelipur lara seolah-olah masuk hingga ke sum-sum tulangku. Apalagi lalu lintas yang cukup padat dengan knalpot yang berdebu, dimana aku bersama Ryo duduk diatas kendaraan yang sedang memarkirkan diri dibahu jalan. Di sudut kiri tak jauh dariku terlihat seorang gadis berjilbab memalingkan wajahnya kesana kemari bagaikan mencari Rama yang hilang dalam sangkar emas. Wajahnya yang kalem  memperlihatkan budi pekertinya yang halus dan seakan matanya menyentuh batinku ini.

“Dia…,” ujarku sambil menyiku Ryo yang sedang asyik memainkan game di selulernya.

“Ah… ganggu orang saja kamu, Ian!”

“Alysa-Alyssa Alyssa,” dimana aku mengerutu telinganya.

“Mana?” tanyanya sambil melirikku dengan kebingungan.

“Itu tuh.” Kataku sambil memalingkan wajahnya ke kiri, dimana seketika Alyssa melambaikan tangannya.

“Huuu,” aku mendesah. Baru kali ini, aku mengagumi Ryo hingga  mengelus dada.

“Kok bisa ya?” tanyaku dalam hati. Sesosok gadis berparas baik dapat terlena dengan rayuan gombal Ryo sedikit jalanan. Oh, aku tahu sekarang, mungkin ini  karena keberanian atau pantang menyerah atau, aku memegang  daguku karena kebingungan memikirkan jawaban yang tak pasti.

“Nanti juga bakal tahu.” Ucapku dalam hati. Hari ini aku semakin bersemangat bagaikan melambung tinggi diatas udara.

“Horeee.” Teriakku.

“Eh, loh masih sehat kan Ian!” Ryo meletakkan tangan kanannya ke dahiku. “Kamu sakit atau kesambat jin mana? Pasti Sarah lagi, Sarah lagi.” Dia menghelakan nafas panjang-panjang. Malah aku merasakan malu tak terhindarkan ketika Alyssa menghadap pas di depan wajahku.

“Dek kenalin? Sahabat baikku Ian.” Sapa Ryo kepada Alyssa. “Maklum sahabat baikku sedang jatuh bangkit lagi karena dunia yang memanah.”

“Hai Alyssa.” Kataku sambil mengingat senyumnya yang menggoda, sama seperti pertama kali aku bertemu dirinya di sudut perpustakaan kampus saat itu.

“Sudah kenal kok Kak.” Sahut Alyssa kepada Ryo.

Ryo memandangiku dengan sedikit curiga namun tatapanku mencoba meyakininya.

“Kak Ian, makasih banyak ya kemaren? Udah mau nolongin aku?”

“Iya sama-sama. Oh ya Alyssa. Kalo kamu butuh buku lagi, mendingan Kak Ryo kamu ajak tuh.  Dia kan kutu buku loh.”

“Ah, masa sih… iya gitu Kak Ryo?” tanya Alyssa.

Terlihat Ryo sedikit kepedean terhadap apa yang baru saja aku katakan, tanpa berpikir panjang lagi, dan lagi.

“Iya donk. Tenang… emanknya Adek butuh buku apa lagi sih? Agama, biologi, ataukah… novel?”  pikir Ryo sambil menatap Alyssa dengan bahagia. “Nanti coba Kakak bantu cariin, dech?”

Lalu, Ryo mengedipkan matanya ke arahku. Aku menggelengkan kepala hingga perutku merasa mual, mendengar kata-kata Ryo yang penuh kebohongan. Namun intinya seorang sahabat itu harus saling menutupi dalam hal kekurangan.Wajar donk, jadinya.

***

            Kebisingan mencekam seakan berada di kerumunan pasar, dimana aku berusaha menutup telingaku rapat-rapat dengan earphone namun tetap saja membekas. Kericuhan yang semakin menjadi, ketika dua orang sahabat berlaga kayak jagoan, dimana terdengar teriakan Boni dan Ryo dalam hal memprovokasi suasana. Tiba-tiba terdengar suara samar dari luar, seseorang berulang kali mengetuk sebuah pintu kelas hingga kami menyentak terdiam. Lalu, dia masuk mengucapkan salam hingga duduk sambil membuka beberapa lembar halaman buku.

“Ayo, kumpulkan tugas kalian yang kemaren anak-anak,” ujar Bu Sandi.

“Ya Bu.” Serentak kami berkata.

Aku cukup mengenalnya, dia seorang Dosen yang berdedikasi tinggi walaupun terkadang menyebalkan. Namun, di balik itu semua menyimpan makna yang tersirat di dalamnya. Akhirnya, suasana menjadi  kondusif seperti yang kuharapkan. Dia berjalan mondar-mandir sambil memberikan ilmu pengetahuan, wajahnya yang sedikit garang membuat kami tertunduk patuh di buatnya, memandangi satu-persatu anak didiknya, dan berdiri tepat di samping Ryo.

“Apa ini?” gumamnya dengan menggelengkan kepala sambil menunjuk anting yang terpasang di kedua telinga Ryo. “Mau jadi preman! Kamu?”

“Ya maaf, lupa Bu,” sahut Ryo.

“Lupa… ayo lepasin sekarang juga!”

“Tapi… jangan diambil donk ya Bu.”

“Nawar lagi, kamu?”

“Ya… Ibu. Namanya juga lupa, mau gimana lagi sih.”

“Lupa! Yang 10 kali bukan!”

Bu Sandi memaksa melepaskan kedua anting tersebut, hingga memasukinnya ke dalam saku.

“Boni kamu juga! Atau?”

“Ya…. ya, Bu.” Jawab Boni terbata-bata. Nampak jelas terlihat raut wajahnya mulai memucat, hingga menggelitik perut para sahabat lainnya. Aku pun tak kuasa menahannya, dimana tanganku mengantuk kepala hingga beberapa kali.

Lalu, Bu Sandi mengabsen kami satu-persatu, tiba-tiba terdengar sebuah suara ketukan pintu lagi, mencoba, dan mencoba membuka pintu kelas kami.

“Assalamu Alaikum,” sapa Sarah ketika masuk.

Serentak kami pun menyahutinya, “Waalaikum Salam.”

Dia pun menghampiri Bu Sandi sambil  menyerahkan beberapa buku. Namun, Aku tak tahu pasti buku apa itu, sebab pandanganku berair karena debu jalanan yang masih mengganggu.

“Makasih ya Sar.” Ungkap Bu Sandi dengan kelembutan seperti menyanginya.

“Mungkin dia tahu,” kataku sambil berbisik-bisik dalam hati. Bahwa Sarah memang sudah tak memiliki kedua orang tua lagi, dimana hanya tinggal dengan Oma dan Tantenya yang tercinta. Suasana begitu dramatisasi dengan kehadirannya, para lelaki nampak bersemangat memandangi wajahnya yang berseri.

“Eehmm, asisten baru ya Neng… boleh kenalan donk?” ujar Boni dengan menggoda Sarah dari tempat duduknya.

“Kenalan, haaa,” sahut teman-teman wanita. “Ngaca donk!”

Sarah pun tersipu malu mendengar perkataan Boni. Boni merupakan salah satu teman sekelasku yang bicaranya terkadang suka ngelantur berlebihan.

“Huuu tuh kan, dia senyum.” Sahut Boni.

“Bukan denganmu, huu!” ujar Ryo meratapinya.

“Lalu, siapa Yo?” gumam Boni dengan penasaran.

Tiba-tiba Ryo memandang kearahku, Boni, dan teman-teman lainnya jadi ikut-ikutan memandangiku meskipun aku hanya terdiam mematung dengan pandangan mereka.

“Oh dasar Ryo.”

“Ciehhh suit suit suit,” kata teman-teman sambil menggurauku. Aku hanya membisu, mendengar celotehan mereka. Namun, ketika aku mempertegas wajahku ke depan kelas, tiba-tiba sarah memandangiku dengan tajam. Aku terperangah sejenak, melihat senyumnya yang nampak tak biasa aku lihat lagi, sehingga membuat jantungku semakin berdebar.

“Ya maaf, cuma bercanda kok Ian.” Ucap Boni sambil mengedipkan matanya.

***

            Alyssa menghampiriku dengan seribu maksud, ketika aku berjalan melewati gerbang kampus, dimana membuatku terperangah dengan kehadirannya yang berbalut kusut. Rasa kekhawatiran seolah membasahi sekujur tubuhnya.

“Kak Ian?”

“Iya.”

“Dimana Kak Ryo?” tanyanya sambil menatapku dengan rasa cemas.

“Enggak tau tuh…,”

Tiba-tiba Ryo memperlihatkan diri dari balik pohon yang besar, entah apa gerangan yang sudah dia lakukan disana.

“Tuh ayo siapa?” tanyaku sambil memandang kearah tersebut.

Ryo langsung menghampiri ke kasihnya dengan khas gombalnya. Aku menggelengkan kepalaku ketika melihat tingkah Ryo yang begitu berlebihan. Aku merasa iri dengan hubungan mereka.

“Apakah ini yang namanya cinta tanpa alasan,” gumamku dengan serius di dalam hati walaupun Ryo saat ini memang mengalami perubahan drastis dalam menjauhi kebiasaan buruknya meminum-minuman keras.

“Kawan, mau ikut gak?” tanya Ryo kepadaku.

“Gak ahh.”

“Ayolah kawan, sekali saja.”

“Iye, lalu les inggrisku mau di kemanain, ayo?”

“Gimana kalo minggu depan aja kamu ikut lesnya.”

“Ah, emanknya kalian mau kemana sih?”

“Nanti juga kamu bakal tahu kok?” Ryo menarikku, membelakangi Alyssa. “Please donk kawan? Jangan batalin rencana besarku ini, kan kamu tahu kalo kita ini baru jadian.”

“Terus, apa urusanku?”

“Aduh, kamu gimana sih Ian. Nanti kalo ada apa-apa kamu kan bisa bantu kawanmu ini, kalo Alyssa banyak tanya ayo?” Aku pun seakan kebingungan dengan sikap Ryo tersebut. Sejenak aku terdiam seperti merasakan sebuah bisikan.

“Oh…, aku tahu sekarang bahwa cinta itu emank gila, bisa merubah perilaku seseorang sesaat.” Tiba-tiba, mereka berdua begitu dekat memandangiku dengan penuh keheranan, ketika aku sedang meratapi hal itu. “Ih kenapa sih kalian.”

“Gak apa-apa kok, tenang, kirain kamu lagi itu tuh-tuh…kesurupaan!” gurau Ryo dengan menyikuku. Aku pun terkulai di buat mereka.

***

            Berjalan melewati gedung-gedung rutinitas dalam keseharian pegawai kantoran, langit yang bersahabat membuat kami larut dalam memancing suasana yang menguap. Berkali-kali Ryo memacu kendali untuk memandu kami, dimana membuat aku terperangah dengan sikapnya yang bersemangat hingga menggetarkan jiwaku. Akhirnya, kami melangkahkan kaki di tiang yang kokoh. Sebuah bangunan yang cukup besar, bertuliskan kata-kata budayakan membaca sejak dini. Berbagai rak buku  yang tersusun rapi dengan hiasan simetris terpampang yang betul-betul elok di pandang, hingga membuat aku iri terhadap apa yang berserakan di kamarku. Pengunjung yang silih berganti amat menarik perhatian, dimana seakan melirikku terhadap beberapa buku yang terpajang. Namun, tak satupun yang aku bentang. Aku nampak ke bingungan seperti kehilangan nafsu membaca. Alyssa mengisyaratkan sesuatu dari pojok, hingga aku mendekatinya.

“Kak Ian, coba lihat ini?” dia menunjukkan sebuah buku IAD (Ilmu Alamiah Dasar) padaku, lalu membacanya: “Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu. Apa maksudnya, Kak?”

“Karena setiap manusia itu memiliki naluri, nalar dan nurani lalu terus berkembang menjadi penasaran. Contohnya: bumi dan alam semesta, bagaimana proses terbentuknya seakan mengundang rasa penasaran terhadap manusia tersebut.” Jawabku.

“Oh, begitu ya Kak.”

“Ya seperti yang dikemukakan para filsafat.”

“Terus, caranya gimana Kak?”

“Cuma perlu berpikir kritis aja.”

“Lalu apakah sebuah ilmu pengetahuan itu harus diuji?”

“Tergantung konteksnya saja.”

“Tapi Kak. Kalo kita berasumsi bagaimana dengan keberadaan Sang Pencipta, apakah bisa di uji?”

Aku terdiam sejenak sambil menatapnya. Aku tahu pasti, apa yang dia ingin katakan sebenarnya, apa dia sedang mengujiku ataukah  mungkin dia tahu kabar angin terhadap pemikiranku selama ini, cara berpikirku terhadap apa yang sedang aku ragukan selama ini tentang kehadiran Sang Pencipta.

“Gadis yang pemberani.” Ucapku dalam hati. Mungkinkah dia datang sebagai seorang pencerah kalbuku ataukah seorang utusan dari langit yang akan menyerangku terhadap beberapa pahamku. Aku tak ingin memulai sebuah perdebatan, hingga terkadang pemikiranku ini seakan melayang jika tak ada bukti yang nyata. Hal yang menjanjikan dimana kita sebagai umat manusia harus bekerja keras untuk mencapai keberhasilan tanpa banyak mengeluh. Sebenarnya, aku sadar siapa diriku, aku bukanlah keturunan darah biru, dan bukan seorang anak dari keturunan kaya raya yang memiliki banyak warisan. Namun, intinya aku selalu belajar untuk menjadi yang terbaik. Sebelumnya, aku pernah gagal dalam membuktikan perasaanku terhadap seseorang yang pernah aku cintai. Iya… itulah permasalahanku selama ini, dimana aku mengubah sebuah sudut pandangku. Lalu suatu saat nanti aku hanya ingin hidup damai, punya keluarga yang aku cintai dengan segenap kasih sayang, dan hingga mencapai keberhasilanku. Kata-kata yang selalu menyelimuti dalam tidurku.

“Eehmm, kok Kakak diam aja sih? Mank ada apa Kak?” Alyssa memutar wajahnya hingga tiga ratus enam puluh derajat dengan keheranan, lalu dia menyilatkan sebuah pembicaraan. “Kira-kira, Kakak pernah gak sih… merasakan patah hati?”

“Husss,” sahut Ryo ketika menghampirinya.

“Ih apa sih Kak Ryo, orang cuma bertanya sedikit aja gapapakan Kak?”

“Ya gapapa kok.” Seketika Ryo langsung mengalihkan perhatian Alyssa.

“Dek kesana yuk, tadi barusan Kakak lihat ada novel bagus loh.”

“Ayo dech, Kak.”

“Sorry Yan.” Kata Ryo sambil membisikku. Sebenarnya aku memang terperanjat betul dengan perkataan Alyssa yang selalu saja ingin tahu urusan orang lain.

“Ya sudahlah santai aja kale… Jangan di permasalahkan hal begituan.”

“Kita bareng kesana yuk.”

“Okay.”.

Aku melihat jelas keromantisan mereka berdua seakan membuatku iri terhadap apa yang aku dambakan selama ini terhadap Sarah.

***

            Detak selulerku berbunyi keras. Aku terperanjat sadar dari tempat tidur berhawa salju, demi menghilangkan keseriusan sepanjang waktu.

“Malam yang damai.” Kuabaikan sebuah jendela yang terbuka, demi menghiasi alunan rumah yang berlambang keharmonisan, dimana lagu dangdut terdengar bergema dikamarku. Lalu, aku melongok kejendela, kupandang langit yang gelap di luar sana, dimana sekejap bintang bermekaran. Kemilau yang indah, menghidupkan suasana ekosistem. Tiba-tiba nada selulerku berbunyi.

“Sebuah pesan dari Ryo mungkin.” Pikirku. Sesaat membaca, Hai Ian, apa kabar? tanpa pengirim, sejenak terdiam.

“Tapi, seperti nomor yang tak asing lagi. Kira-kira siapa ya? Ah, aku lupa. Keisengan Boni paling tidak.” Hingga pesan kedua masuk, Ian sahabatku, kamu masih ingat aku tidak… By: Sarah.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s